Muhadjir berpendapat penerapan FDS di sekolah swasta dapat menjadi rujukan atau acuan implementasi FDS di sekolah-sekolah negeri dan umum lainnya, dengan tetap mempertimbangkan kondisi sosial dan geografis setiap daerah. Dari pertimbangan itu nantinya dapat dilihat daerah mana saja yang memungkinkan sistem pembelajaran tersebut diterapkan.
”Kami punya badan penelitian dan pengembangan (litbang) yang nanti akan mengkaji lebih lanjut agar penerapan konsep FDS bisa optimal. Ada juga rujukan best practice dari sekolah swasta yang sudah lebih dulu menerapkan sistem pembelajaran ini," ujar Muhadjir kepada CNNIndonesia.com pada Senin (8/8) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, kata Muhadjir, konsep FDS tidak akan begitu saja diterapkan di sekolah-sekolah. Penerapan FDS akan disesuaikan juga dengan kebutuhan siswa dan kearifan lokal yang dimiliki masing-masing daerah.
"Misalnya di daerah mana saja yang orangtuanya sibuk, sehingga tidak punya banyak waktu di rumah, daerah itu cocok untuk terapkan konsep FDS ini," ucap Muhadjir.
Muhadjir menyatakan, bobot pendidikan karakter untuk tingkat sekolah dasar (SD) sekitar 80 persen dan tingkat menengah pertama (SMP) sekitar 60 persen. "Karena itu menurut kami yang paling tepat adalah perpanjang waktu anak di sekolah," katanya.
Membuat Anak Terasing
Sementara itu, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menyatakan, konsep FDS belum terjamin efektifitasnya jika diterapkan di seluruh wilayah Indonesia, khususnya sekolah di daerah.
Menurut Muhaimin, masih banyak sarana dan prasarana termasuk infrastruktur sekolah di daerah yang belum memadai jika harus menerapkan konsep FDS.
Masih banyak sekolah yang belum layak sebagai lingkungan belajar yang nyaman apalagi jika harus menghabiskan waktu lebih banyak di sekolah. Begitu pula soal kualitas, kuantitas, dan disribusi guru/tenaga pendidik yang belum merata.
"Jangankan nyaman bahkan hanya sebagai tempat sekedar berkumpul pun (banyak sekolah) sudah tidak aman," kata Muhaimin.
Muhadjir sebelumnya menyampaikan gagasan full day school untuk pendidikan dasar yaitu SD dan SMP untuk sekolah negeri dan swasta. Gagasan ini diajukan agar anak memiliki kegiatan di sekolah dibanding berada sendirian di rumah ketika orang tua masih bekerja.
"Dengan sistem full day school secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi 'liar' di luar sekolah ketika orang tua mereka masih belum pulang dari kerja," kata Muhadjir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Minggu (7/8).
Menurut Muhadjir, menambah waktu anak di sekolah membuat siswa bisa menyelesaikan tugas dan mengaji hingga dijemput orang tua usai jam kerja. (wis/wis)