Menurut Ifa, konsep 'Full Day School' masih berorientasi sistem belajar siswa yang bersekolah di wilayah urban atau perkotaan. Sebaliknya, konsep tersebut belum tentu sesuai dan cocok jika diterapkan di sekolah-sekolah yang terletak di pedesaan atau bahkan pedalaman.
"Kebutuhan siswa perkotaan dengan pedesaan kan lain. Karena itu pasti lain juga dong konsep belajar siswa yang bersekolah di perkotaan dengan siswa di pedesaan bahkan pedalaman. Itu yang belum dirangkul pemerintah," ujar Ifa kepada CNNIndonesia.com pada Senin (8/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penerapan konsep itu juga dinilai erat kaitannya dengan kapabilitas mengajar guru di sekolah. Ifa mengatakan pemerintah harus bisa memastikan kemampuan guru mengajar dan kemampuan siswa belajar berdasarkan potensi kearifan lokal pada masing-masing daerah.
Cetak Biru Sistem Pendidikan
Menurut Ifa, hal terpenting yang seharusnya dilakukan pemerintah adalah mengkaji dan menyusun cetak biru atau blue print pendidikan Indonesia. Cetak biru ini ditujukan untuk memperjelas tujuan jangka panjang yang ingin dicapai pemerintah.
Penyusunan cetak biru pendidikan harus melibatkan publik serta ahli pendidikan, juga harus didasarkan data dan riset di lapangan yang benar-benar memenuhi dan mencakup kebutuhan siswa-siswa di pelbagai daerah di Indonesia. Nantinya, cetak biru itu diharapkan bisa dipakai sebagai pedoman pemerintah dalam menyusun kebijakan pendidikan.
"Pemerintah harus ubah sudut pandang dan belajar mengidentifikasi apa kebutuhan masyarakat setempat. Jadi kebutuhan pendidikan harus ditemukan oleh masyarakat sendiri, tugas pemerintah itu hanya memfasilitasi dengan kebijakannya," kata Ifa. (wis/asa)