Pernyataan itu disampaikan oleh Wiranto menanggapi penyebaran informasi dari kelompok Abu Sayyaf tentang kondisi kesehatan warga negara Indonesia yang sakit selama disandera lebih dari sebulan.
"Yang sempat sakit, itu kan informasi penculik. Mereka melemparkan terus informasi itu. Itu namanya perang urat saraf, perang psikologi," ujar Wiranto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (12/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wiranto menuturkan, pemerintah terus mendampingi keluarga sandera sekaligus menginformasikan bahwa pemerintah terus melakukan operasi intelijen untuk mengecek dan terus memperbarui kabar tentang kondisi sandera.
Wiranto meminta ketegasan pemerintah Filipina dalam mempercepat proses pembebasan sandera. Indonesia, melalui jajaran TNI, telah siap masuk apabila disetujui pemerintah Filipina. Jalur diplomasi juga dimaksimalkan Indonesia.
"Kami meminta pemerintah Filipina agar bertindak lebih tegas, lebih pasti terhadap aksi-aksi yang dilakukan oleh warga negara di daerah mereka tapi korbannya warga negara lain," tuturnya.
Hingga kini sepuluh WNI masih disandera di Filipina oleh kelompok Abu Sayyaf. Tujuh di antaranya merupakan anak buah kapal tugboat Charles 001 dan Robby 152. Mereka disandera di Laut Sulu, Filipina Selatan, saat sedang berlayar membawa batu bara dari Tagoloan Cagayan, Mindanao, menuju Samarinda. Sementara tiga WNI lainnya disandera pada waktu berbeda, 9 Juli. (gil)