Jokowi ketika itu berpasangan dengan Ahok, sapaan Basuki. Visi-misi itu membawa Jokowi-Ahok memimpin DKI Jakarta. Pada Pilkada kali ini, Ahok menggandeng Djarot Saiful Hidayat dengan membawa visi-misi yang serupa.
"Intinya masih mirip, cuma kami lebih pertajam sampai program jelas. Saya ingin setiap visi bisa terukur," kata Ahok di Balai Kota, Jakarta, Rabu (5/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, IPM warga Jakarta berada pada angka 78.9. Ahok ingin menargetkan IPM DKI Jakarta meningkat di atas 80 yang artinya setara dengan IPM kota-kota di Eropa.
Dalam urusan birokrasi, Ahok menjelaskan kinerja PNS dinilai menggunakan Key Performance Index (KPI). Termasuk soal pendidikan, juga harus dilihat berdasarkan angka putus sekolah dan lamanya waktu bersekolah.
Ahok juga menargetkan angka inflasi DKI Jakarta berada di bawah angka nasional. Dia mengklaim pendistribusian dan harga bahan pokok sudah stabil dan berjalan dengan baik. Hal ini, tutur Ahok, yang membuat pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta di atas angka nasional.
"Jadi semua jelas dengan angka. Jadi saya kira orang bisa nyontek lah visi-misi program kami yang terukur," kata Ahok.
Diketahui, Ahok-Djarot menawarkan visi menjadikan Jakarta sebagai etalase kota Indonesia yang modern, tertata rapi, dan manusiawi, dan fokus pada pembangunan manusia seutuhnya dengan kepemimpinan yang bersih, transparan, dan profesional. Poin dalam visi itu dijabarkan dalam misi.
Sementara, Jokowi-Ahok lima tahun silam juga menawarkan Jakarta baru, kota modern yang tertata rapi, menjadi tempat hunian yang layak dan manusiawi, memiliki masyarakat yang berkebudayaan, dan dengan pemerintahan yang berorientasi pada pelayanan publik.
Kemarin malam, visi-misi Ahok-Djarot sudah diserahkan ke Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta oleh Tim Pemenangan. (wis/obs)