Satgas Kewalahan Padamkan Kebakaran Gambut Meranti

Suriyanto, CNN Indonesia | Selasa, 18/10/2016 02:25 WIB
Satgas Kewalahan Padamkan Kebakaran Gambut Meranti Satgas kebakaran hutan dan lahan di Meranti kewalahan memadamkan karena jauhnya sumber air. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Satuan tugas penanggulangan kebakaran hutan dan lahan Provinsi Riau mengaku kewalahan memadamkan api di lahan gambut Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti. Kebakaran di lahan gambut itu terus meluas.

"Untuk pemadaman darat kami kesulitan sumber air. Jarak pantai ke lokasi kebakaran cukup jauh sementara api terus meluas ke tengah pulau," kata Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Riau Jim Gafur di Pekanbaru, Sabtu (15/10) seperti diberitakan Antara.

Saat ini 25 personel TNI, Polri, dan BPBD Riau bertugas memadamkan api. Mereka dibantu masyarakat dalam upaya memadam 50 hektare lahan gambut yang terbakar di tiga desa.

Seluruh personel telah berusaha keras memadamkan api sejak Selasa (11/10). Namun, angin kencang serta kondisi lahan gambut kering membuat pemadaman sulit dilakukan. Hal ini semakin dipersulit dengan jauhnya sumber air.

"Tim darat sudah berupaya menggali untuk mencari sumber air. Namun, air yang diperoleh sangat minim," ujarnya.


Tim hanya mengandalkan air laut untuk memadamkan api. Permasalahannya, pada siang hari air laut dalam kondisi surut sehingga sumber air sangat jauh.

Dilain sisi, pemadaman melalui udara juga hanya mengandalkan dua helikopter jenis Sikorsky dan MI-8, yang terbang dari Lanud Roesmin Nurjadin, Kota Pekanbaru. Jarak antara Pulau Rangsang dengan Pekanbaru berkisar 190 kilometer, sehingga helikopter yang sampai di lokasi tidak maksimal melakukan pemadaman.

Sementara itu Kepala BPBD Kepulauan Meranti Muhammad Edy Afrizal mengatakan, meski sebagian besar wilayah Provinsi Riau di daratan Sumatera diguyur hujan dalam tiga hari terakhir, ia mengatakan hal itu tidak terjadi di pesisir Riau, terutama Meranti.

Edy menggambarkan saat ini cuaca di Meranti cukup panas dengan angin kencang, dengan hari tanpa hujan mencapai lebih dari satu bulan.

Hal tersebut menyebabkan gambut di wilayah Meranti yang terdiri dari kepulauan di Timur Riau menjadi kering dan sangat mudah terbakar. (sur/sur)