Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, Slamet Riyadi di Pekanbaru, Minggu (16/10), mengatakan temuan titik panas tersebut tersebar di dua provinsi pada akhir pekan ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari masing-masing satu titik panas setiap kabupaten itu, dua titik diantaranya--disebut pihaknya bersama analisa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), sebagai titik api atau potensi terbakar.
"Satelit nyatakan dua titik api pada Kecamatan Rangsang di Meranti capai 99 persen dan Kecamatan Kandis di Siak dengan 87 persen," ujar Slamet.
Satuan Tugas Penanggulangan Karhutla Provinsi Riau kemarin dilaporkan kewalahan memadamkan titik api di lahan gambut Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, karena terus meluas.
"Untuk pemadaman darat, kita kesulitan sumber air. Jarak antara pinggir laut ke lokasi kebakaran cukup jauh, sementara api terus meluas sampai ke tengah pulau," kata Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau, Jim Gafur.
Jim menjelaskan, sebanyak 25 personel TNI/Polri, BPBD Meranti dan dibantu masyarakat setempat berupaya memadamkan sekitar 50 hektare lahan gambut yang terbakar di tiga desa.
Seluruh personel telah berjibaku berupaya melakukan pemadaman sejak Selasa (11/10). Namun, katanya, angin kencang dan kondisi kering lahan gambut membuat pemadaman sulit dilakukan.
Ia mengatakan, hal tersebut diperparah lagi dengan sumber air yang sulit untuk diperoleh memadamkan lahan gambut terbakar.
"Tim darat sudah berupaya menggali untuk mencari sumber air. Namun, air yang diperoleh sangat minim," ujar Jim.