Pendiri The Community Of Ideological Islamic Analyst (CIIA) ini menyebut, Sultan sebenarnya sosok yang pintar dan tinggal bersama kakaknya yang seorang anggota polisi di Asrama Polri
Paham radikal Sultan mulai dimiliki saat ia bergabung dengan Kelompok Ciamis pimpinan Fauzan Al Anshori.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Teror 'ISIS' di Tangerang |
Menurut Harits, setelah pesantren dibubarkan, banyak pengikut Fauzan yang ditangkap. Kini hanya tersisa sekitar lima hingga enam orang.
Bahkan bisa jadi pemicunya adalah problem pribadi atau keluarga. Menurut Harits, keyakinan yang ia pahami menjadi semacam legitimasi untuk tindakan yang ia lakukan.
Harits melanjutkan, menempel stiker ISIS pernah dilakukan Sultan sebelumnya. Ia bahkan sudah diperingati oleh kakaknya yang anggota Polri. Bahkan kakak kandunganya sudah meminta bantuan anggota polisi yang lain untuk memperingati Sultan.
Penyerangan pada anggota polisi oleh Sultan dinilainya bukan terkait dengan motif politik kelompok tertentu. Apalagi desain dari kelompok tertentu yang jadi rujukannya.
Aksi kekerasan, kata Harits, bisa punya beragam motif. Bisa keyakinan yang dianutnya atau bahkan faktor ekonomi. "Atau karena kondisi labil dan depresi seseorang," ujarnya.
Harits berharap tak ada generalisasi atau bahkan penghubung-hubungan kasus kekerasan ini dengan jaringan atau kelompok tertentu yang membuat perkara yang terjadi malah jauh dari subtansi aksi kekerasan seperti yg terjadi. (sur/asa)