"Kalau dia sudah punya akses (ke jaringan teroris) berarti bukan lone wolf," kata Suhardi di Jakarta, Selasa (25/10).
Suhardi mengatakan, mungkin benar Sultan mempelajari cara membuat bom lewat internet. Namun harus dipertimbangkan juga pengaruh yang didapatkan Sultan dari jaringan Aman Abdurahman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang jelas ada koneksi. Ini kewaspadaan karena semua sel bisa masuk (mempengaruhi) siapa saja," kata Suhardi.
"Terpengaruh itu bukan berarti dia pemimpinnya, bukan. Tapi nanti dilihat selnya, masih didalami Polri dan BNPT," kata Suhardi.
Suhardi juga mengimbau masyarakat agar terus waspada karena paham radikal bisa masuk ke orang-orang sekitar. Mereka yang sudah terpengaruh, bisa menyerang siapa saja termasuk anggota kepolisian.
Sultan menyerang tiga anggota Kepolisian yang sedang bertugas di Tangerang menggunakan senjata tajam. Dia sempat melemparkan bom pipa, tapi tidak meledak.
Akhirnya, dia berhasil dilumpuhkan setelah tiga peluru bersarang di paha dan perutnya. Nyawanya tidak terselamatkan karena kehabisan darah dalam perjalanan dari RSUD Tangerang ke RS Bhayangkara Kramat Jati Jakarta.
Sebelumnya sejumlah pengamat menyebut aksi Sultan di Tangerang itu adalah fenomena lone wolf. Ia bergerak sendiri dalam aksinya tanpa didukung atau direncanakan oleh kelompok tertentu.
Sultan disebut mendapat pemahaman radikal dari kelompok Ciamis yang dipimpin Fauzan Al Ashori. Kelompok ini sudah bubar dan sejumlah anggotanya sudah tewas. Fauzan sendiri sudah meninggal akhir tahun lalu.
Polisi berencana menelusuri keberadaan kelompok ini di Ciamis. Sisa-sisa anggota ini diduga masih ada namun tidak membentuk kelompok tertentu.
Lihat juga:Pengamat: Pelaku Teror Tangerang Anti Polisi |