Farid menyatakan, generasi muda harus mengetahui pengalaman Indonesia dalam bernegara dan berbangsa. Sejarah, menurutnya, merupakan modal untuk menghadapi tantangan zaman.
"Banyak yang abai dan tidak peduli dengan sejarah. Padahal persolan sehari-hari berkaitan dengan masa lalu," ujarnya di Jakarta, Rabu kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, merujuk contoh lain, Farid menyebut pelajar di Maluku perlu mengerti Kerusuhan Ambon yang terjadi tahun 1999.
Lihat juga:Menegakkan Sejarah 1965 Lewat Film |
"Bukan mau mengorek masa lalu kelam. Kami justru ingin membuktikan, kasus kekerasan di masa lalu berpengaruh terhadap masyarakat sekarang," kata Farid.
Lebih dari itu, Farid berkata, upaya menjadikan kasus pelanggaran HAM sebagai muatan mata pelajaran sejarah telah dimulai sejak 2005. Namun menurutnya rencana tersebut tidak diimplementasikan secara sistematis.
Terkait isi pendidikan Tragedi 1965 misalnya, terdapat tafsir yang keliru. "Yang sudah diajarkan di sekolah, bagi saya belum cukup. Ada pembodohan. Si A bilang gini, Si B bilang begitu," kata Farid.