"Pendukung maupun FTF di ISIS atau Jabhat Al Nusra dari Indonesia lebih sedikit dibandingkan dari Eropa," kata Deputi Kerja Sama Internasional BNPT Inspektur Jenderal Petrus Golosse, di Badung, Bali, Rabu (9/11).
Petrus berkata, data Polri dan Interpol menunjukkan angka yang sama. perbandingan yang sama. Namun ia menyatakan, fenomena tersebut bukan berarti penanggulangan terorisme akan mudah dijalankan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Petrus menyebut pemerintah tetap mengalami kendala untuk mengidentifikasi WNI yang berangkat ke luar negeri untuk tujuan turisme maupun bergabung ke ISIS.
Lihat juga:BIN: ISIS Ubah Strategi Teror Indonesia |
Asep mengatakan, melalui aplikasi I-24/7, Imigrasi dapat mengakses informasi Interpol dari seluruh dunia. Imigrasi dan Divisi Hubungan Internasional Polri telah menandatangani kerjasama tersebut.
"Aplikasi ini bisa mendeteksi khususnya untuk data pemegang paspor yang hilang, juga mereka yang dicari oleh negara-negara," kata Asep.
Terkait masalah WNI di Timur Tengah, Asep mengatakan imigrasi bekerja sama dengan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri untuk mendeteksi orang-orang yang datang dari zona konflik.
"Jadi memang sudah ada beberapa yang kepulangannya diketahui," ujarnya.