Dia berpendapat, ketegangan antara AS dengan kelompok Islam di dunia akan makin meningkat.
"Memang ini bisa menimbulkan masalah baru, ketegangan, antara Amerika dengan dunia Islam yang selama ini ada masalah," kata Din di kantor MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (9/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal menurut Din, warga Amerika mulanya adalah kelompok pendatang yang melakukan migrasi dari Eropa. Trump, kata Din, lupa soal itu.
Din menyebut hubungan antara AS dengan kelompok Islam di dunia memburuk saat negara adidaya itu dipimpin oleh Presiden George W Bush. Bush dituding sering mengadakan perang dan teror terhadap Islam.
Namun menurutnya, kondisi mulai membaik ketika Barack Obama menjabat sebagai orang nomor satu di AS. Sentimen anti Amerika berkurang.
"Nah sekarang ini (Trump) saya kira lebih parah dari Presiden George W Bush," kata Din.
Meski demikian, Din berharap Trump dapat mengubah pikiran dan tindakan yang lebih baik setelah menjadi Presiden AS, tidak seperti yang selama ini diucapkan saat kampanye.
Menyikapi terpilihnya Trump sebagai presiden, Din berniat akan membicarakan dengan organisasi Islam internasional World Conference on Religions for Peace(WCRP) yang berpusat di New York. Dalam organisasi itu, Din menjabat sebagai Honorary President.
"Mungkin kami akan diskusikan bagaimana tampilnya Amerika yang sekarang masih menyisakan kekuasaannya sebagai adikuasa jangan kemudian menimbulkan masalah besar bagi peradaban dunia yang sebenarnya sudah rusak ini," ujar Din.
Sementara MUI sendiri belum memikirkan sikapnya untuk menjembatani hubungan Islam dengan AS jika terpilihnya Trumph benar-benar terpilih sebagai presiden. (rel/asa)