Orang tak dikenal itu berkaos hitam dan celana model kargo berwarna cokelat. Dia muncul tiba-tiba dari arah parkiran menuju tempat ibadah, lalu melemparkan sesuatu yang diduga sebagai bom molotov. Orang-orang pun panik.
Pria misterius itu lantas menghilang secepat dia datang. Dia lari tunggang langgang ketika massa masih dalam kondisi terhenyak. Konsentrasi massa pun terbelah, sebagian panik berusaha menyelamatkan gereja dari kobaran api, sementara sisanya sebagian besar memburu si perusuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat itu saya sedang membawa mobil hendak berjualan di Sumalindo. Tiba-tiba orang ramai dan terlihat ada kepulan asap dari Gereja Oikumene," ujar Samuel, membeberkan kesaksian kepada Kantor Berita Antara.
Tanpa berpikir panjang, Samuel membanting setir mobilnya dan memacu gas untuk mengejar si terduga pelaku.
Namun setibanya di tepi Sungai Mahakam, orang yang dikejar menghilang. Samuel memburu pandang di tepian dermaga. Mulanya orang yang dicari tidak terdeteksi, namun belakangan Samuel tahu orang itu telah menceburkan diri ke dalam sungai terbesar yang bermuara di Selat Makassar itu.
"Saya sempat lihat kepalanya timbul tenggelam," kata Samuel.
Tak jauh dari Samuel ada perahu bersandar. Dia lantas meminta si pemilik perahu untuk membantu dia mengejar buruannya. Sempat terjadi debat kecil karena si pemilik sangsi dengan permintaan Samuel, namun akhirnya menurut juga setelah Samuel pasang badan untuk memberi jaminan keamanan.
Drama penangkapan pun dimulai. Terduga pelaku berjuang mati-matian kabur dari pengejaran Samuel yang semakin mendekat ke arahnya. Ketika perahu berada dalam jangkauan yang tepat, Samuel masih kesulitan untuk menarik pria misterius itu. Samuel mendapat perlawanan dari orang tersebut.
"Orang itu sempat menarik kaki saya, kemudian saya hajar telinganya sehingga ia melepaskan pegangannya. Saya langsung seret ke atas perahu dan ikat, kemudian saya serahkan ke polisi yang ada di Dermaga Sumalindo," kata Samuel.
Warga pun ramai-ramai mengamankan pria itu, untuk kemudian menyerahkannya kepada aparat penegak hukum. Perbuatannya telah menelan korban luka, termasuk di antaranya balita.
"Korban ledakan yang merupakan anak-anak itu tengah bermain di halaman gereja, menunggu orang tua mereka keluar. Terduga pelaku kabur meninggalkan motornya," kata Pendeta Gereja Oikumene, Samion (53) yang juga sempat mengejar terduga pelaku.
"Pelaku pernah menjalani hukuman pidana sejak tanggal 4 Mei 2011 yang berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat nomor 2195/pidsus/2012/PNJKT.BAR tanggal 29 Februari 2012 dengan hukuman tiga tahun enam bulan kurungan," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Agus Rianto.
Jo dinyatakan bebas bersyarat setelah mendapatkan remisi Idul Fitri pada 28 juli 2014. Terhitung sammpai saat ini, ia sudah bebas kurang lebih selama dua tahun.
(gil/yul)