Direktur Uama PT MRT Jakarta William Sabandar menuturkan, biaya proyek berubah seiring sejumlah perubahan rencana awal. Ia berkata, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan telah mengecek validitas biaya tambahan itu.
William pun mendorong Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta Soni Sumarsono segera mencairkan dana tambahan tersebut. Setidaknya, kata dia, dana tambahan itu harus sudah cair tahun 2018.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Wiliam, biaya proyek MRT meningkat karena tiga hal, yaitu desain konstruksi baru akibat penambahan koefisien gempa, perubahan desain karena kendala pembebasan lahan, serta peningkatan harga kontrak.
Lihat juga:Jokowi Puji Kemajuan Pembangunan LRT dan MRT |
Soni mengatakan, Pemprov akan meminta Japan International Cooperation Agency (JICA) menyediakan dana segar untuk menutup kebutuhan PT MRT Jakarta. Dana awal proyek MRT yang mencapai Rp14 triliun juga berasal dari JICA.
Dana tambahan itu akan digunakan untuk proyek MRT fase satu atau koridor selatan utara-yang menghubungkan Lebak Bulus-Bundaran HI. Koridor itu memiliki 13 stasiun yang terdiri dari tujuh stasiun layang dan enam stasiun bawah tanah.
Lihat juga:Jalan Panjang Mega Proyek MRT |