Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar menyatakan rencananya Rio bersama rekan-rekannya Eep Saiful Bahri, Bahrain Agam, dan Hendra akan menjual sabu itu untuk mendanai aksi teror yang hendak mereka lakukan.
"Mereka sebenarnya ingin membuat laboratorium narkotik yaitu pembuatan sabu. Cita-citanya adalah sabu dijual kemudian mendapatkan uang untuk melakukan kegiatan aksi teror," kata Boy di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, Rabu (30/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Upaya komplotan Rio pun membuahkan hasil. Mereka sukses membuat bahan peledak RDX yang kecepatan ledaknya mencapai 8 ribu meter per detik dan TNT 7.
”Ada kutex yang untuk wanita, bisa jadi barang (peledak berbahaya),” tuturnya.
Menurut Boy, kelompok Rio rencananya akan melancarkan aksi teror di sejumlah daerah pada akhir tahun. Kelompok ini dipastikan Boy berbeda dengan tersangka teroris berbaiat pada ISIS yang menyusup pada demo 4 November.
Rio, 24 tahun, ditangkap di Majalengka, Rabu (23/11). Dia disebut pernah menimba ilmu pertanian di salah satu perguruan tinggi, namun tidak tamat.
Pada saat itulah, Rio mempelajari ilmu kimia. Dia mengaplikasikan ilmunya setelah mengenal paham radikal.
Densus 88 juga telah meringkus dua orang terduga teroris yang tergabung dalam jaringan Rio. Dua orang tersebut adalah Bahrain Agam dan Saiful Bahri alias Abu Syifa. Keduanya diduga mendanai, memberi ide membuat bom, dan membeli bahan peledak.
Pada Senin (28/11), Densus 88 berhasil meringkus rekan Rio lainnya yang bernama Hendra alias Abu Pase. Ia ditangkap di lokasi pemancingan yang terletak di Jalan Ismaya Raya, Pondok Benda, Tangerang Selatan, Banten. (gil)