Pesawat itu berangkat dengan 12 awak dan satu penumpang dinas dari Pangkalan Udara Timika, pukul 05.35 WIT. Selain membawa 12 ton beras dan semen, pesawat itu juga bermisi latihan dalam rangka peningkatan kemampuan penerbang. Diharapkan, beberapa awak pesawat yang akan meningkat dari kopilot menjadi kapten pilot, bisa mengoperasikan pesawat di mana pun.
Pesawat dijadwalkan mendarat di Wamena pada 06.13 WIT. Perjalanan berjalan lancar. Sekitar 06.02 WIT pesawat melakukan kontak dengan menara di Wamena. “Awalnya akan melaksanakan pendaratan dari ujung landasan pacu 1-5. Di Wamena ada 1-5 dan 3-3,” kata Hadiyan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, Tim SAR Gabungan sudah menemukan 13 korban tewas dari pesawat produksi 1980-an yang dibeli dari Australia itu. Jenazah akan dievakuasi ke Bandara Wamena dan segera dipulangkan ke keluarga masing-masing. Namun penelitian masih harus dikerjakan.
“Setiap kejadian ada investigasi. Ujungnya akan kita beri rekomendasi. Kecelakaan itu ada lima faktor, bisa berhubungan atau tidak,” kata Hadiyan. Lima faktor yang disebutnya termasuk manusia, materi atau mesin, media yang termasuk cuaca, misi, dan manajemen.
Namun ia memastikan, kondisi pesawat masih layak terbang. Pesawat itu bahkan masih punya 69 kali jam terbang lagi untuk menuju ke prosedur pemeliharaan selanjutnya. “Jadi kru, pesawat, semua layak terbang,” tutur Hadiyan. Soal cuaca, biasanya ada laporan sebelum pesawat terbang. Cuaca buruk jelas jadi pertimbangan. Apakah itu benar memengaruhi jatuhnya pesawat pada Minggu pagi, belum diketahui. “Harus melalui analisa,” tuturnya. (rsa)