Hal itu dipaparkan Cak Imin dalam acara 'Halaqoh Ulama Rakyat' Regional Jawa Timur di Pondok Pesantren Mambaul Maarif, Jombang. Dia menuturkan kemajuan demokrasi dan teknologi informasi selama ini telah melahirkan rasa frustasi dan krisis kemanusiaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Front Pembela Islam (FPI) adalah organisasi yang dideklarasikan pada 1998 di Tangerang, dan dikenal dengan aksinya untuk melakukan ‘razia’ tempat-tempat hiburan macam kafe dan diskotik.
Sedangkan Hizbut Tahrir Indonesia masuk pada 1980-an dengan merintis dakwah kampus. Gerakan ini lahir di Palestina dengan tujuan menegakkan kepemimpinan Islam melalui Khilafah Islamiyah. Aksi HTI di antaranya adalah dengan mobilisasi massa dalam jumlah relatif besar.
Sinergi melalui Teknologi
Walaupun demikian, Cak Imin menuturkan, gairah keagamaan pun dinilai turut menguat di Indonesia. Dalam acara itu pun, dia mempertanyakan peranan Nahdlatul Ulama dan PKB, karena masih banyak tokoh ulama yang enggan memanfaatkan kekuatan teknologi informasi.
Selain itu, Cak Imin menyatakan bahwa aksi damai 2 Desember 2016 lalu merupakan puncak pengelolaan kecanggihan komunikasi dan media sosial. Dia menuturkan sinergi ulama dan umat dapat dilakukan dengan teknologi informasi, karena perangkat itu dapat menghilangkan sekat.
Aplikasi itu memuat dua fitur yang bisa dipilih sesuai dengan keinginan pengguna. Dua fitur tersebut adalan TV dan radio.
Jika memilih fitur TV, pengguna aplikasi akan melihat siaran secara langsung yang diambil dari live streaming Youtube. Dua nama saluran yang menyiarkan Aksi Bela Islam III adalah Bela Islam III Live Streaming dan 212 Live Stream Bela Islam III. (asa)