"Saya kira bertahun-tahun NU praktis sendirian terhadap kelompok kelompok intoleran," ujar Savic saat ditemui CNNIndonesia.com, Selasa (24/1).
Savic menyatakan, sejak reformasi terdapat organisasi atau kelompok yang berhaluan keras antara lain Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahiddin, Laskar Jihad, dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini ironis," kata Savic.
Menurut Savic, seluruh elemen bangsa harus peduli dan mengambil sikap terhadap keberadaan kelompok intoleran atau garis keras. Masyarakat harus mewaspadai penetrasi paham kelompok tersebut.
Penetrasi, kata Savic, dapat melalui berbagai tempat seperti masjid, gedung-gedung yang digunakan shalat Jumat, sekolah atau komunitas kampus.
Saat ditanya soal konflik antara Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) dan FPI, Savic menilai hal itu murni politik dan merupakan wilayah tanggung jawab polisi.
"Saya kira NU tidak ada concern dengan konflik FPI dan GMBI," tuturnya.
Savic menjelaskan, NU mencegah semangat persaudaraan sebagai satu bangsa tidak hilang karena sentimen keagamaan yang selalu bergaung. "Jangan sampai pandangan Islam radikal itu menjadi mayoritas di Indonesia," katanya. (rdk)