"Sebagian besar, di atas 50 persen well educated," kata Suhardi saat ditemui usai kunjungannya bersama Kementrian Sosial di Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Handayani Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur. Senin (6/2).
"Ada yang pakar IT, (berlatar pendidikan) fisika, keuangan. Latar pendidikan mereka rata-rata well educated," kata Khofifah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Plh Kepala PSMP Handayani Sulistya Ariadhi mengatakan, total 52 WNI telah dipulangkan ke Indonesia selama rentang 23-26 Januari, sementara 23 orang sisanya tiba dalam rentang 3-5 Februari.
Khofifah menjelaskan, 75 WNI yang diduga berafiliasi dengan ISIS ini terdiri dari 41 dewasa (24 perempuan dan 17 laki-laki) dan 34 anak-anak. Sebagian besar dari mereka berasal dari Jawa Timur. Banyak dari mereka memiliki hubungan keluarga.
"Kakek, nenek, anak dan cucu. Ada yang nenek, anak dan cucu, juga suami-istri," kata dia.
Selidiki motif kepentingan WNI di Suriah
Kepala BNPT Suhardi Alius menyatakan pihaknya kini masih mendalami soal latar belakang atau motivasi para WNI hijrah ke Suriah.
"Mereka memang ingin hijrah dan sebagainya, dengan suasana baru. Namun ternyata belum bisa sampai ke sana," kata Suhardi.
"BNPT melibatkan unsur ulama dari NU, Muhammadiyah, Dewan Masjid untuk bisa bantu memberi pencerahan. Program deradikalisasi juga dimuatkan," kata Suhardi.
Suhardi mengatakan kemungkinan masih akan ada proses deportasi lanjutan karena kondisi di Suriah masih terjadi konflik dan pemerintah Turki tidak mengizinkan siapapun masuk ke daerah tersebut.
"Kemungkinan akan ada deportasi-deportasi lain," kata Suhardi.
"Mereka ingin segera kembali ke kampung halaman," ungkap Ignatia. (gil)