Keramaian hari ini tampak berbeda dari pertama kali posko crisis center ini berdiri pekan lalu. Sebelum pimpinan Pandawa Mandiri Group, Salman Nuryanto ditangkap, posko selalu sepi bahkan tak seorang pun tampak berjaga atau melapor di posko berbentuk saung itu.
Posko yang telah dibuka sejak pukul 07.00 WIB itu telah didatangi oleh sekitar 200 orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Sylvi mengaku, tidak berharap banyak dari laporan yang dia berikan kepada petugas Ditkrimsus Polda Metro Jaya dan Otoritas Jasa Keuangan. Hal itu karena tidak ada arahan dan keterangan tindak lanjut dari hasil laporan yang dia lakukan.
Tidak hanya Sylvi, rekannya Anita (52), warga Ciganjur Jakarta Selatan yang turut menjadi korban Pandawa Mandiri Group itu juga mengaku tidak berharap banyak dari yang sudah dia lakukan saat ini.
Lihat juga:Pimpinan Koperasi Pandawa Ditangkap |
Anita mengaku bingung dengan crisis center tersebut, karena tidak jelasnya sistem pengaduan yang ada di sana. Awalnya, dia juga ingin mengadukan leader namun, informasi yang dia dapatkan mengatakan bahwa pengaduan leader sudah ditutup.
"Awalnya mau mengadu soal leader juga tapi katanya justru pengaduan leader sudah ditutup. Jadi ini saya juga tidak tahu sebenarnya ini hanya buat mengadu saja atau bagaimana," tuturnya.
Anita menjadi anggota Pandawa Mandiri Group sejak September 2014. Dia mengaku alami kerugian sebanyak ratusan juta rupiah.
Saat ini, Anita hanya berharap untuk bertemu dengan Nuryanto dan mempertanyakan soal uang yang dimilikinya.
"Kalau ketemu Nuryanto, saya ingin menanyakan kenapa dia kabur. Kalau punya uang kenapa harus kabur," ucapnya.