"Persiapan hari ini saya sudah mengecek yang kedua kalinya, hari ini sudah 90 persen. Tinggal persiapan karpet-karpetnya, sound systemnya, termasuk persiapan beliau (Raja Salman) duduk di mana," ujar Setya di Gedung DPR, Jakarta, Senin (27/2).
Setya menuturkan, sejumlah fasilitas khusus, seperti pintu dan jalan masuk ke dalam Gedung Nusantara, tempat Raja Salman berpidato juga telah disiapkan. Perlakuan khusus itu, kata dia, terkait dengan usia Raja Salman yang telah menginjak 83 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rencananya film akan diputar usai Raja Salam memberi pidato di hadapan anggota parlemen dan sejumlah tamu undangan, seperti MUI, PBNU, Muhammadiyah, dan sejumlah ulama.
"Parlemen Arab Saudi sudah mengkaji untuk kerjasama. Jadi ini tindak lanjut daripada hal-hal yang akan dilakukuan pada pertemuann nanti," ujar Setya.
Gedung DPR dipersiapkan untuk kunjungan Raja Salman. (Detikcom/Rengga Sancaya) |
Kunjungan bermanfaat
Anggota Komisi I DPR Fraksi PDIP Andreas Hugo Pereira menilai, kujungan Raja Salman dengan membawa sejumlah menteri dan pengusaha Arab Saudi merupakan bentuk kunjungan strategis dan memiliki arti multi dimensi bagi hubungan kedua negara.
"Kunjungan ini adalah kunjungan yang strategis di tengah perubahan yang tengah melanda dunia, sekaligus akan tercatat dalam sejarah," ujar Andreas dalam pesan tertulis, Senin (27/2).
Andreas melihat, ada tiga aspek yang dapat menjadi poin penting dalam pertemuan tersebut, yaitu aspek ekonomi, politik, serta agama dan budaya.
Dalam aspek ekonomi, ia berkata, kehadiran 10 menteri dan sejumlah pangeran Arab Saudi untuk membahas investasi puluhan miliar dollar Ameriksa Serikat di Indonesia merupakan langkah positif bagi hubungan diplomatik kedua negara.
"Kunjungan ini mempunyai nilai strategis mengingat Arab Saudi adalah middle power di Timteng, sebagaimana halnya Indonesia di Asia Tenggara," ujarnya.
Terakhir, dalam aspek agama dan budaya, Andreas mengatakan, kerjasama antara Indonesia dengan Arab Saudi akan meningkatkan kualitas kehidupan agama dan peradaban muslim di dunia. Ia menilai, Arab Saudi merupakan pusat peradaban muslim dunia, dan Indonesia sebagai negara demokrasi dengan populasi muslim terbesar di dunia.
"Kerjasama di bidang agama dan kebudayaan diharapkan tentu akan menghasilkan pemahaman yang sama antar kedua negara yang tentunya akan menjadi barometer bagi perdamaian dunia, khususnya masyarakat muslim dunia," ujar Andreas.
Gedung DPR dipersiapkan untuk kunjungan Raja Salman. (Detikcom/Rengga Sancaya)