Hal ini ditegaskan Novel menyoal imbauan Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono yang melarang umat muslim memasang spanduk bernada kebencian di sejumlah wilayah. Spanduk bermuatan sentimen agama itu tertuju pada calon gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
"Itu kan hak otonomi masjid. Dia (pengurus masjid) memasang atau tidak itu hak otonomi, kecuali di jalan, itu hak Satpol PP. Di masjid itu hak pengurus, syiar Islam," kata Novel di Jakarta, Rabu (15/3).
CNNIndonesia.com sempat menemukan salah satu spanduk bermuatan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) menggantung di pemukiman penduduk kawasan Cipulir, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Spanduk putih itu digantung di salah satu perempatan gang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Spanduk provokatif masih dipasang di Cipulir, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (14/3). (CNN Indonesia/Sisilia Claudea Novitasari) |
"Menurut kami tidak ada yang provokatif. Semuanya ada dasar, surat-surat tadi," ucapnya.
Lihat juga:Ketua PBNU: Allah Jangan Diajak Kampanye |
Sementara itu, Ketua ACTA Krist Ibnu T Wahyudi mengatakan pihaknya akan meminta klarifikasi Pemerintah Provinsi DKI dan KPUD terkait penurun 266 spanduk oleh Satuan Polisi Pamong Praja di wilayah DKI. Krist mengatakan klarifikasi itu untuk mengetahui dasar hukum pencopotan spanduk.
Sebelumnya, Sumarsono menyatakan, Satpol PP sudah menurunkan 266 spanduk di wilayah DKI. Selain itu dia mengimbau agar masyarakat setempat mencopot spanduk yang berisi larangan menyalatkan jenazah pendukung Ahok.
"Kalau mereka bisa menurunkan sendiri, saya berikan apresiasi, tidak perlu pakai Satpol PP," kata Sumarsono di Balai Kota, Jakarta, Selasa (14/3).
Dia juga memerintahkan agar jajaran di bawahnya bertindak tegas untuk menurunkan spanduk yang bersifat provokatif dan berbau SARA serta yang dipasang tidak pada tempatnya. Sumarsono berharap tokoh agama dan masyarakat setempat menurunkan spanduk dengan cara bermusyawarah.
Spanduk provokatif masih dipasang di Cipulir, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (14/3). (CNN Indonesia/Sisilia Claudea Novitasari)