"Pernyataan Bu Diah soal laporan dari Andi bahwa saya sering minta uang untuk Pak Gamawan itu betul-betul sangat keji," ujar Irman saat menyampaikan keberatan dalam sidang kasus dugaan korupsi proyek e-KTP di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (16/3).
Menurut Irman, kejadian yang sebenarnya terjadi adalah Andi menawarkan sejumlah uang untuk Gamawan melalui dirinya. Namun saat itu secara tegas ia menolak dan mengaku tak pernah meminta uang pada Andi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bu Diah telpon saya, bilang kalau Andi orang baik dan bisa pegang komitmen. Berarti Bu Diah sudah tahu kalau Andi ini orang baik," ujar Irman.
Irman juga membantah soal permintaan uang Rp75 miliar yang disebutkan Winata. Menurutnya saat itu justru Winata yang menawarkan uang untuk melancarkan proyek e-KTP.
Ditunda Pekan Depan
Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menyatakan menunda sidang pada 23 Maret mendatang. Sidang masih akan dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi dari jaksa penuntut umum.
Selain enam orang saksi yang telah dihadirkan di muka persidangan hari ini, sedianya ada satu saksi lagi yang akan dihadirkan yakni mantan pejabat Kemdagri Rasyid Saleh. Namun karena sudah larut malam, majelis hakim memutuskan untuk mendengarkan keterangan Rasyid pada persidangan pekan depan.
Jaksa Irene Putri berkata, ada sembilan saksi termasuk Rasyid yang akan dihadirkan dalam persidangan pekan depan. Para saksi masih berasal dari unsur kementerian dan anggota DPR.
"Ya kami masih akan meminta keterangan soal anggaran," katanya.
Menurut Irene, keterangan Agus sangat diperlukan untuk menggali soal anggaran terutama tentang perubahan pembiayaan hingga sistem multiyears pada proyek e-KTP.