Dua pasal itu dianggap menggampangkan kriminalisasi orang-orang kritis dan bertetangan dengan konstitusi.
"Ini bahaya, orang rapat bisa saja kemudian dikatakan telah dilakukan perencanaan permufakatan makar," kata Habiburokhman di MK, Jakarta, Senin (3/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam berkas yang dia ajukan, pengacara yang tergabung dalam Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) ini mengatakan agar MK mencabut dua pasal tersebut dan meminta polisi menunggu keputusan final MK untuk dua pasal yang tengah digugat pihak lain.
"Secara resmi tidak ada, tapi substansi tentu ada kasus-kasus tersebut membuat saya risau. Hari ini orang lain kena, besok-besok kita bisa kena," katanya.
Di sisi lain, dia mengaku sudah menghubungi beberapa pakar hukum sebagai saksi ahli. Dalam berkas yang didaftar, dia menyertakan beberapa alat bukti seperti daftar saksi ahli, daftar bukti, bukti fisik serta softcopy gugatan.
Pendafatran uji materi ini diterima petugas MK bernama Agmarina Rasika. "Kemungkinan uji materi usai sidang sengketa Pilkada," kata Agmarina.
Namun begitu relawan Teman Ahok berhasil, tak ada realisasi dari umbar janjinya tersebut.