Mantan Ketua Fraksi Demokrat di DPR ketika proyek e-KTP bergulir itu, menyebut bahwa Nazaruddin kerap memberikan keterangan yang berisi fitnah dan fiksi kepada dirinya.
Menurut Anas, setelah dicermati, rangkaian kesaksian Nazaruddin soal e-KTP, dirinya berani menyatakan kepada penyidik KPK, bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika seorang pejahat dibutuhkan untuk menangkap penjahat jangan terlalu cepat penjahat diberi label orang suci baru atau pahlawan, boleh jadi sebetulnya masih terus melakukan hal yg sebelumnya dilakukan tetapi oleh model yang lain," ungkap Anas.
Terpisah, anggota fraksi Golkar Markus Nari mengaku sempat bertemu dengan anggota fraksi Hanura Miryam S Haryani di mal Pacific Place, Jakarta sebulan lalu. Dalam pertemuan tersebut, Markus mengaku tak membahas proyek Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP).
Lihat juga:Anas Tantang PPATK Bongkar Aliran Uang e-KTP |
"Saya ketemu berdua saja. Dia (Miryam) minta proyek ke saya karena saya orang teknik, mau bangun resort," ujar Markus.
Markus pun menyanggupi permintaan itu dengan syarat Miryam menyediakan lahan untuk membangun resort. Ia mengaku telah terbiasa mengerjakan proyek semacam itu karena termasuk salah satu kegemarannya.
"Saya memang hobi sepeti itu. Saya bantu, dia siapkan lahannya. Setelah itu tidak ada pertemuan lagi," katanya.
Miryam merupakan salah satu saksi sidang kasus e-KTP yang dihadirkan jaksa dalam persidangan sebelumnya. Miryam mencabut seluruh keterangan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) lantaran mengaku diancam saat diperiksa oleh penyidik KPK.
Mantan anggota Badan Anggaran DPR itu kemudian ditetapkan sebagai tersangka karena memberikan keterangan palsu saat persidangan.
"Saya tidak pernah terima," ucapnya.