Budi Riswanto sejak awal paham, sebagian masyarakat akan menganggapnya pengkhianat. Sikapnya berseberangan dengan sebagian besar petani di bawah kaki Pegunungan Kendeng yang berupaya keras mengusir industri semen.
Budi adalah warga Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Katalisator utama dukungan pemuda lokal untuk perusahaan semen pelat merah itu tinggal sekitar 3 kilometer dari pintu masuk pabrik PT Semen Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Ketika Tegaldowo Menentang Ekspansi Semen |
Pegiat panjat tebing itu mengatakan, ia tidak buta terhadap isu lingkungan yang menyertai kedatangan PT Semen Indonesia. Tapi Budi yakin, perusahaan itu akan merealisasikan janji mereka untuk merevitalisasi kelestarian alam pascapenambangan.
Seorang bocah berlatih upacara bendera di SD Negeri Kadiwono, Tegaldowo. Rembang. Sebanyak 95 persen warga di sekitar pabrik semen mendukung berdirinya pabrik. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Februari lalu misalnya, Budi berada di tapak pabrik Semen Indonesia tatkala keributan yang diwarnai saling bakar tenda terjadi. Ia juga memegang komando ketika kelompok pro berupaya menghadang aksi gerakan penolak semen.
Budi berkata, situasi antarwarga sekitar pabrik dan penambangan PT Semen Indonesia panas setahun belakang. Keributan yang berkelindan dengan kekerasan fisik nyaris terjadi.
Namun ia bersyukur, otak yang panas tak sampai membakar nalar rekan-rekannya. Ia yakin, tidak ada korban jiwa yang gugur pada konflik semen Rembang.
Lihat juga:Perlawanan Orang-orang Tegaldowo |
“Saya juga dapat pinjaman dari pabrik untuk membesarkan usaha. Saya pinjam Rp25 juta dengan suku bunga 0,5 persen selama dua tahun,” kata Budi.
Kepala Seksi Pemerintahan Desa Kadiwono, Supendi, merasakan pula yang dikatakan Budi. Persis di sebelah rumahnya yang berbahan semen dan batu, ia membangun indekos bertarif Rp2,5 juta per kamar.
Saat tahap pendirian pabrik PT Semen Indonesia berlangsung, 22 pekerja yang rata-rata berasal dari Jawa Timur menyewa empat kamarnya. Supendi mengklaim, nilai ekonomi yang diraupnya dari usaha indekos lebih besar dibandingkan pendapatan dari sawah dan ladang.
“Bertani itu tidak ada labanya. Luas sawah saya 1,8 hektare, sekali panen dapat 60 sak. Dibandingkan modal yang saya keluarkan, hasil itu tidak ada labanya,” ucapnya.
Desa Kadiwono sepintas terlihat berbeda dibanding Tegaldowo, kampung yang berada di lingkaran utama kawasan penambangan PT Semen Indonesia. Di Kadiwono, kebanyakan rumah bertembok batu dan semen, sementara tidak sedikit warga Tegaldowo tinggal di rumah joglo kayu beralaskan tanah.
Suasana pabrik PT Semen Indonesia yang belum berproduksi secara maksimal, dari total kapasitas 3,5 juta ton per tahun. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Ismatul Ulfah adalah warga Kadiwono yang pas dengan klasifikasi tersebut. Perempuan berusia 54 tahun itu lahir di Kabupaten Pati. Ia pindah ke Kadiwono pada 1997 ketika suaminya yang asli Purwodadi, Suyitno, dimutasi ke kantor Kepolisian Sektor Bulu.
“Anak saya tiga. Yang pertama bekerja di Primkopol Polres Rembang, yang kedua di pelayaran Banjarmasin, dan yang terakhir masih kelas dua SMP di Bulu,” tutur Ismatul.
Suyitno pensiun dari profesinya sebagai polisi sebelum PT Semen Indonesia masuk ke Rembang. Ketika perusahaan itu membangun pabrik, Suyitno dan Ismatul menyewakan empat kamar indekos bertarif Rp1,2 juta. Sebanyak 32 pekerja pabrik indekos selama setidaknya setahun di tempat mereka.
Lihat juga:Rembang dalam Bayang-bayang Industri Semen |
Suyitno dan Ismatul juga membuka sebuah warung makan yang secara rutin menyediakan makan untuk para pekerja pabrik: sarapan, santap siang, dan makan malam. “Kami berharap mendapat penghasilan sehari-hari. Itulah alasan kami selalu mendukung semen,” ujar Ismatul.
Di Kadiwono, kata Supendi, PT Semen Indonesia kerap menyalurkan bantuan untuk perorangan maupun komunitas. Empat tahun terakhir, perusahaan itu selalu membagikan sembako untuk warga ketika idul fitri dan menyumbangkan sapi saat lebaran haji tiba.
PT Semen Indonesia juga diklaimnya membiayai pembangunan gapura Desa Kadiwono, pemasangan pagar dan paving blok masjid serta menggelar kursus keterampilan masak dan menjahit untuk kaum ibu.
Karyawan pabrik melakukan cek kerja mesin. Permintaan semen di masa mendatang bakal kian meningkat bersamaan dengan besarnya belanja infrastruktur pemerintah. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
“Awalnya kami juga menolak semen, tapi setelah melalui beberapa sosialisasi, kami akhirnya setuju. Keberadaan pabrik semen sangat membantu kami,” kata Supendi.
PT Semen Indonesia dan warga Kadiwono, seperti diutarakan Budi Riswanto, saling membutuhkan. Perusahaan membutuhkan dukungan masyarakat lokal berupa tanda tangan dan fotokopi kartu identitas sebagai syarat pengajuan dokumen analisis dampak lingkungan. Sebaliknya, penduduk setempat memerlukan dinamo untuk menggerakkan roda perekonomian.
Simbiosis mutualisme itu dirasakan betul oleh Budi. “Saya masuk-keluar ke pabrik dan bertemu pejabat pabrik semen itu sudah biasa dan gampang. Toh mereka juga membutuhkan saya,” ujarnya.
Lihat juga:Merangkul Semen, Memutar Garis Hidup |
Seorang bocah berlatih upacara bendera di SD Negeri Kadiwono, Tegaldowo. Rembang. Sebanyak 95 persen warga di sekitar pabrik semen mendukung berdirinya pabrik. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Suasana pabrik PT Semen Indonesia yang belum berproduksi secara maksimal, dari total kapasitas 3,5 juta ton per tahun. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Karyawan pabrik melakukan cek kerja mesin. Permintaan semen di masa mendatang bakal kian meningkat bersamaan dengan besarnya belanja infrastruktur pemerintah. (CNN Indonesia/Andry Novelino)