Teten menyampaikan, beberapa waktu lalu Jokowi sempat meminta agar pengeluaran izin pembangunan pabrik semen disesuaikan dengan kebutuhan nasional. Permintaan itu tak berkaitan langsung dengan permasalahan pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah.
"Iya. Hampir-hampir sama. Itu (permintaan Jokowi) sudah dulu sekali, artinya kalau sudah oversupply. Tidak dalam konteks Rembang," ujar Teten kepada CNNIndonesia.com, Senin (17/4).
Permintaan itu disampaikan Ganjar kepada Jokowi melalui surat yang dikirimkan 27 Desember 2016. Permintaan disampaikan lantaran pro dan kontra terkait penambangan dan pendirian pabrik semen di provinsi tersebut semakin meluas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya belum tahu surat itu. Belum tahu sampai moratorium itu," tutur Teten.
Lihat juga:Berhenti Mendebat Kawasan 'Suci' Watuputih |
Berdasarkan surat yang diperoleh CNNIndonesia.com, secara rinci Ganjar membeberkan enam dasar permintaan moratorium dalam surat bernomor 540/0020993.
Masyarakat di kawasan karst sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai petani yang memanfaatkan lahan di sekitar cekungan karst (doline). Lahan pertanian itu dikelola oleh masyarakat.
Selain itu, alih status kepemilikan lahan yang ditambang, dari milik perseorangan atau masyarakat menjadi milik swasta, membuat masyarakat tidak dapat memiliki tanahnya kembali.
“Memerhatikan hal tersebut, kami mengusulkan kepada Bapak Presiden untuk menerbitkan moratorium pendirian pabrik semen di Provinsi Jawa Tengah dalam jangka waktu tiga hingga lima tahun,” mengutip surat Ganjar.