Iriawan menyebut, dari hasil penyelidikan sementara, pelaku sudah menggambar sedetail mungkin lokasi melarikan diri agar tidak terekam closed circuit television (CCTV).
"Dan itu pelaku sudah betul-betul menggambar situasi yang ada. Di CCTV itu cepat sekali motor lewat dan dia (pelaku) tahu ke mana larinya," kata Iriawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (25/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belakangan, dua orang yang nampak di CCTV itu merupakan petugas leasing yang juga direkrut oleh Subdit Pencurian Kendaraan Motor Ditresktimum Polda Metro Jaya untuk menjadi mata-mata.
Iriawan menuturkan, sebelum kejadian, Novel sempat menolak pengawalan karena merasa tidak enak dengan rekan penyidik KPK.
"Dia (Novel) sudah sampaikan ke saya, mohon maaf enggak enak sama yang lain seperti paranoid saja. Saya bilang bukan paranoid, karena Anda sedang tangani kasus besar," tutur mantan Kapolda Jabar ini.
Hinga saat ini, Novel masih menjalani perawatan intensif di sebuah rumah sakit di Singapura.
Febri merincikan, dari serangkaian tindakan yang telah dilakukan selama ini, tekanan mata kanan Novel 16, sedangkan mata kiri 18.
Sementara, untuk tindakan pengetesan huruf dan angka, mata sebelah kanan sudah bisa membaca hingga level 6, sedangkan kiri level 45.
“Semakin kecil levelnya semakin baik. Secara umum, kondisi Novel stabil,” katanya.