Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Hubungan Pusat Daerah, James Modouw mengatakan, langkah pertama untuk mengawal peserta didik ini dengan melindungi anak-anak tersebut melalui buku.
"Tentu, kita bisa kawal lewat buku dengan cara menyortir, menghilangkan bumbu-bumbu radikalisme jika memang ada di buku-buku itu," kata James di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Rabu (3/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita lihat, kita periksa, agar di dalam buku tidak ada infiltrasi radikalisme," kata dia.
"Supaya satuan pendidikan juga masyarakat dapat menyadari buku adalah alat yang paling mudah untuk disisipi ajaran yang tidak selaras dengan kebangsaan kita," ujar James.
Maka dari itu menurut James buku atau film yang terkait pendidikan perlu juga diatur pengendaliannya serta memiliki sensor konten tersendiri. Lebih lanjut, James juga mengatakan, masyarakat sebaiknya perlu lebih lapang dada untuk sadar bahwa terkadang antara radikal dan deradikalisme itu memiliki perbedaan yang tipis.
"Kita sudah masuk ranah radikal, kita harus sama-sama jaga. Berpegang pada Pancasila. Kita juga harus yakin Tuhan itu sifatnya adalah yang penuh kasih dan kedamaian," kata James.