Kemiskinan Jadi Kendala Pemberantasan Tuna Aksara

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Sabtu, 10/09/2016 11:23 WIB
Kemiskinan Jadi Kendala Pemberantasan Tuna Aksara Wakil Bupati Jombang Munjidah Wahab (kiri) mengajar lansia mengenal huruf. Jawa Timur adalah provinsi dengan jumlah buta aksara terbesar di Indonesia. (ANTARA /Syaiful Arif)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan faktor kemiskinan masih menjadi kendala utama dalam pemberantasan tuna aksara di Indonesia.

Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemdikbud, Harris Iskandar, tingkat kemiskinan berkorelasi dengan jumlah tuna aksara. Semakin tinggi tingkat kemiskinan, semakin rendah kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan.

"Semakin tinggi tingkat kemiskinan pada suatu daerah memiliki kecenderungan jumlah masyarakat buta hurufnya semakin tinggi karena motivasi untuk belajar rendah," ujar Harris di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Jumat (9/9).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2014, Papua dan Nusa Tenggara Barat adalah provinsi dengan tingkat kemiskinan paling tinggi di Indonesia. 


Papua menjadi provinsi dengan persentase jumlah buta aksara terbanyak di Indonesia berdasarkan jumlah penduduknya, yakni 28 persen dari total penduduk Papua.

Sementara Jawa Timur merupakan provinsi dengan jumlah buta aksara terbesar di Indonesia. Dari total 5,9 juta jumlah buta aksara di Indonesia, sekitar 1,4 juta tuna aksara ada di Jawa Timur.

Motivasi belajar yang minim karena usia lanjut, kata Harris, turut jadi kendala dalam penuntasan buta aksara di Indonesia.

Terbukti, kata dia, dari sekitar 5,7 juta orang buta aksara, dua pertiganya berusia 45 tahun ke atas. 

"Mereka yang berusia lanjut (dan buta aksara) ini yang umumnya sudah enggan untuk belajar baca, tulis, dan berhitung (calistung). Sulit untuk mendorong mereka (belajar)," kata Harris.

Pendekatan Pendidikan Vokasi

Direktur Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan Kemdikbud, Erman Syamsudin mengatakan, pemerintah berupaya mengoptimalkan pendidikan vokasi sebagai pendekatan memberantas tuna aksara di Indonesia.

Menurut Erman, pendekatan vokasi berbasis kewirausahaan jauh lebih diminati masyarakat tuna aksara, khususnya yang sudah berusia lanjut.

"Kalau belajar calistung saja, tuna aksara berusia lanjut umumnya hanya ikut sekali atau dua kali pembelajaran. Dengan (vokasi) kewirausahaan, peserta mendapat nilai lebih yakni keahlian," ujarnya.
Erman menuturkan, selain mengajarkan masyarakat membaca, menulis, dan berhitung, pendekatan vokasi berbasis kewirausahaan juga memberikan pengalaman dan pengetahuan berusaha kepada para peserta. Para peserta bisa memilih bidang vokasi sesuai minat mereka.

Pendekatan vokasi telah digagas sejak tahun 2011 lalu. Sejauh ini, program penuntasan aksara itu telah bergulir di 25 kabupaten di Indonesia yang rencananya akan terus bertambah setiap tahunnya.

"Banyak cara sebenarnya untuk penuntasan tuna aksara, tapi pendekatan yang memiliki potensi ekonomi masih menjadi yang paling menarik masyarakat. Motivasi belajar jadi meningkat," kata Erman (wis/wis)