Sebagai fotografer, Adek cukup sering meliput konflik atau perang. Di Indonesia, Adek pernah memotret konflik di Ambon, Timor-timor, Palu, dan Tentena. Sementara untuk konflik di luar negeri, Adek pernah meliput ke Pakistan dan tiga kali ke Afghanistan.
Meski dengan berbagai pengalaman menentang bahaya, ibu dua anak ini tetap mengutamakan keamanan saat meliput di daerah perang atau konflik. Ia juga selalu mengikuti Standard Operation Procedure (SOP) setiap kali ditempatkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika kita embeded (bergabung dengan satuan keamanan), rompi anti peluru dan helm menjadi barang yang wajib dipakai. Selain itu, kita juga harus patuh terhadap perintah dari komandan regu.”
Adek Berry pernah meliput beberapa daerah konflik, mulai dari Ambon hingga Afghanistan. (AFP PHOTO / ADEK BERRY) |
Sebagai fotografer perempuan, tanggung jawab Adek tak sebatas pada pekerjaan saja tapi juga pada statusnya sebagai istri dan ibu. Adek menegaskan komunikasi menjadi hal yang penting baginya dan keluarga. Hal ini yang membuat suami maupun anak-anak Adek memahami profesi dan seluruh risiko yang hadir di balik titel sebagai jurnalis foto.
Untuk menyeimbangkan dua dunia tersebut, Adek mengaku akan meninggalkan atributnya sebagai fotografer saat berada di rumah atau bersama keluarga.
"Saat libur, aku punya anakku, punya mereka. Saat di rumah, aku bukan fotografer, aku bukan editor, aku adalah ibu rumah tangga yang juga mencuci, memasak, terus ngurus anak ya," tuturnya.
Meski sudah 20 tahun menjalani profesi sebagai fotografer, Adek mengaku masih banyak hal dari dunia fotografi dan foto jurnalistik yang masih ingin dipelajarinya.
"Kalau dibilang enggak ada capeknya enggak mungkin, dibilang enggak ada bosennya juga enggak mungkin, karena seperti aku bilang (fotografi) melakukan pekerjaan yang sama dan berulang. Tapi pada prinsipnya jurnalistik adalah menyampaikan pesan dan pesan itu bisa selalu berbeda-beda, kondisi meliput juga selalu berbeda-beda," ucapnya.
Salah satu yang membuat Adek kecanduan pada dunia fotografi, salah satunya, adalah karena foto merupakan karya individu. Ini berbeda dari karya video di televisi yang merupakan karya tim.
"Karyanya individu dalam satu foto. Yang nempel nama Adek Berry," ucapnya.
------
Tulisan ini diterbitkan dalam rangka merayakan World Press Freedom Day 2017. CNN Indonesia menerbitkan hasil wawancara dengan lima jurnalis foto berpengalaman Indonesia.
Adek Berry pernah meliput beberapa daerah konflik, mulai dari Ambon hingga Afghanistan. (AFP PHOTO / ADEK BERRY)
Salah satu foto Adek Berry yang memenangi penghargaan adalah ketika ia meliput bencana alam gempa di Jogjakarta. (AFP/Adek Berry)