Hariyanto, menyebut salah satu alasannya sering mengikuti berbagai lomba foto adalah untuk mencari pemasukan tambahan karena gajinya yang bisa dibilang tak seberapa.
"Cari duit tambahan, karena gaji gue enggak banyak. Kedua pengen narsis juga. Sepanjang effort gue enggak terlalu berat, kenapa enggak?" ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain mengikuti lomba fotografi, Hariyanto juga kerap menjadi juri sejak 2005. Ia juga pernah tiga kali didaulat menjadi juri Anugerah Pewarta Foto Indonesia.
Pria yang memiliki hobi bernyanyi dan menulis puisi ini punya harapan agar jurnalis foto di Indonesia memiliki pemikiran bahwa mereka bisa mengubah sesuatu dari produk jurnalistik yang mereka hasilkan.
"Tidak sekadar menyampaikan informasi, tapi harus bisa memberikan hiburan, atau edukasi. Ketika tiga hal itu sudah dipenuhi, bukan tidak mungkin produk itu bisa menggerakkan orang, menginspirasi orang banyak. Peristiwa yang ditangkap bisa mengubah banyak hal," tuturnya.
Salah satu foto karya Hariyanto, yang kepala Divisi Artistik dan Foto di Media Indonesia. (MI/HARIYANTO) |
Bagi Hariyanto, seorang jurnalis foto harus memiliki memori visual yang kaya yang merekam banyak informasi dan pengetahuan. Selain itu harus punya sensitivitas. Haryanto menilai dua hal itu yang akan membuat seorang fotografer dengan mudah menangkap berbagai hal yang terjadi di sekitarnya, yang terlewati orang lain.
Ketiga, menurut Hariyanto seorang jurnalis foto juga harus mau melakukan riset untuk pra-visualisasi sebelum memotret. Riset tersebut, kata Hariyanto, saat ini bisa dilakukan dengan mudah dengan adanya internet. Satu hal penting lainnya adalah daya juang.
"Jika sudah punya keinginan mau bikin sesuatu, punya tiga kemampuan tadi, tapi enggak mampu mengatasi hambatan, maka yang tiga tadi jadi enggak terpakai. Fighting spirit itu harus. Itu jadi kunci," ujarnya.
Terakhir, seorang jurnalis foto juga disebutnya harus punya kesadaran bahwa pekerjaannya adalah untuk kepentingan orang lain. Hariyanto menilai seorang fotografer tidak boleh terjebak pada egoisme untuk memuaskan diri sendiri.
"Kalau selintas fotonya bikin bingung, pasti ditinggalkan. Dalam waktu singkat, foto harus menarik mata orang untuk bertahan masuk ke dalam foto, itu penting. Sekarang ini kan banyak teman-teman yang punya otoritas memilih foto, kemudian terjebak dalam style personal. Itu berbahaya," tuturnya.
Bagi Hariyanto sendiri fotografi merupakan medium untuk beribadah. Dalam artian, sebagai seorang jurnlalis foto ia berharap bisa mengubah sesuatu dari tidak baik menjadi lebih baik, dari yang tidak punya harapan menjadi punya harapan, dari yang tidak bahagia menjadi bahagia.
"Itu harapan saya, itu idealisme saya." (vws)
Salah satu foto karya Hariyanto, yang kepala Divisi Artistik dan Foto di Media Indonesia. (MI/HARIYANTO)