Hal itu disampaikan pemimpin redaksi Al Ahram Mohamed Aboel Fadl usai acara Jakarta Geopolitical Forum 2017 yang berlangsung pada Sabtu (20/5). Salah satu kesamaannya adalah paham radikalisme yang masuk secara mendalam ke pikiran masyarakat, terutama di kalangan masyarakat miskin. Persamaan lainnya adalah cara mengatasi paham tersebut dengan tiga hal yakni kekuatan militer, program deradikalisasi dan pendidikan.
Khusus upaya deradikalisasi, yakni mengembalikan cara pikir yang moderat dan toleran, ia menilai program itu tak sepenuhnya berhasil baik Mesir maupun Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fadl menuturkan yang harus dilakukan saat ini adalah melalui pendidikan di antaranya dengan penataan kurikulum. Dengan kurikulum itu, sambung Fadl, toleransi dapat ditanamkan bagi masyarakat untuk menangkal paham radikal.
Anak-anak wilayah konflik
Sementara itu, Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones, mengatakan yang harus dipikirkan adalah ribuan anak-anak baik di daerah konflik di Suriah maupun di Indonesia yang diduga terpengaruh dengan paham ISIS.
Salah satunya, karena mereka tak mendapatkan pendidikan dengan baik.
Dia mencontohkan salah satunya adalah keluarga dari Suriah yang dideportasi dari Turki. “Harus memikirkan bagaimana sekolah mereka, agar mereka bisa diintegrasikan,” kata Jones.
Ribuan anak-anak pengungsi Suriah, kata Jones, tak punya akses ke pendidikan yang baik sehingga di masa depan, mereka dikhawatirkan bisa dengan mudah terpengaruh paham radikal. Dan oleh karena itu, Jones menyatakan, harus ada intervensi dari negara mengenai hal tersebut.