Dalam dokumen kebijakan yang dipresentasikan di Doha oleh pemimpin organisasi tersebut, Khaled Meshaal, Hamas juga menyatakan akan mengakhiri asosiasi dengan Ikhwanul Muslimin. Langkah ini tampaknya diambil untuk memperkuat hubungan dengan negara Teluk Arab dan Mesir yang memandang kelompok tersebut sebagai teroris.
Israel merespons Hamas berupaya "membodohi dunia" dengan menyatakan pengumuman tersebut. Sementara rival utama kelompok tersebut di Palestina, faksi Fatah yang dipimpin Presiden Mahmoud Abbas, merespons dingin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hamas, yang menguasai Jalur Gaza sejak 2007, dalam dokumen itu menyatakan sepakat dengan pembentukan negara transisi Palestina sesuai dengan perbatasan yang ditetapkan pada 1967, ketika Israel merebut Gaza, Tepi Barat dan Yerusalem Timur dalam peperangan melawan negara-negara Arab. Israel menarik diri dari Gaza pada 2005.
Didirikan pada 1987 sebagai cabang dari Ikhwanul Muslimin, gerakan Islamis Mesir yang dilarang, Hamas bertempur dalam tiga perang dengan Israel sejak 2007 dan melakukan ratusan serangan bersenjata di Israel serta wilayah-wilayah yang diduduki negara tersebut.
Kebanyakan negara-negara Barat mengklasifikasikan Hamas sebagai kelompok teroris karena tidak bisa mencegah kekerasan, mengakui hak keberadaan Israel dan menerima kesepakatan damai sementara antara negara itu dan Palestina.
Juru bicara Fatah, Osama al-Qawasme, mencela Hamas karena menghabiskan waktu berdekade untuk bergabung dengan mereka menerima pembentukan negara Palestina di bawah kesepakatan perbatasan 1967. Sebelumnya, Hamas kerap mengkritisi Fatah karena kebijakan itu.
"Dokumen baru Hamas identik dengan piagam Fatah 1988 lalu. Hamas mesti meminta maaf pada Fatah setelah 30 tahun menuding kami berkhianat dengan mengambil kebijakan itu," kata Qawasme.
Otoritas Palestina di bawah Abbas telah melakukan pembicaraan damai dengan Israel dengan dasar pembentukan negara di bawah perbatasan 1967, meski upaya terakhir yang dimediasi AS pada 1967 berakhir gagal.
Sejauh ini belum ada komentar dari Mesir dan negara-negara Teluk Arab terkait dokumen tersebut.