Hal ini terlihat dari hasil kajian Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek, yang menyebutkan, dari total 47,5 juta perjalanan yang terjadi di Jabodetabek pada 2015 lalu, baru 24 persen pengguna jalan yang memutuskan untuk menggunakan moda angkutan umum darat, seperti bus Transjakarta dan atau commuter line.
"Dengan rincian, pengguna bus Transjakarta sebanyak 326.500 per hari, dan commuter line Jabodetabek sebanyak 759.564 per hari," kata Iskandar di Jakarta, Senin (22/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tingginya pertumbuhan kepemilikan kendaraan bermotor pribadi dan rendahnya minat warga untuk menggunakan transportasi umum inilah yang menjadi salah satu alasan kemacetan di ibu kota sulit diatasi.
Iskandar mengatakan, rata-rata warga Jakarta saat ini mengeluarkan 20 hingga 35 persen penghasilannya untuk berpergian dengan transportasi umum.
"Padahal, harusnya 12 persen (biaya yang dikeluarkan dari total penghasilan) itu sudah maksimal," kata dia
Sejumlah permasalahan itu, menurut Iskandar, menjadi tantangan besar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang tengah menargetkan pengguna angkutan umum bisa mencapai 40 persen pada 2019 mendatang.
Lihat juga:Transjakarta Sediakan 300 Bus Ramah Difabel |
Iskandar sendiri mengapresiasi upaya Pemprov DKI dalam menjamin ketersediaan angkutan umum yang handal dengan tarif terjangkau.
Ia juga mengakui berbagai upaya Pemprov DKI untuk mendorong minat warga Jakarta untuk menggunakan transportasi umum, antara lain dengan terus menambah jalur Transjakarta, meningkatkan pelayanan KCJ (KAI Commuter Jabodetabek), serta pembangunan MRT (Mass Rapid Transit) dan LRT (Light Rail Transit).
Namun, kata Iskandar, yang terpenting adalah membatasi pertumbuhan kendaraan bermotor pribadi. "Sebab tanpa pembatasan, cita-cita memiliki pengguna angkutan umum hingga 40 persen pada 2019 adalah sesuatu yang mustahil," ujar Iskandar.