Ada belasan nama yang duduk menjadi dewan pengawas perusahaan pelat merah sejak Presiden Jokowi mulai menjalankan roda pemerintahannya. Sejumlah nama yang tersebar berada di pelbagai badan usaha, mulai dari BUMN bidang telekomunikasi, keuangan hingga perkebunan.
Sebelumnya, data yang diperoleh CNNIndonesia.com menyatakan sedikitnya 125 pejabat publik merangkap jabatan komisaris di pelbagai BUMN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelbagai nama para pendukung Jokowi yang kini duduk di pusaran komisaris di antaranya adalah Refly Harun (Komisaris PT Jasa Marga Tbk); Margiyono Darsasumarja (Komisaris PT Telkom Tbk); Mustar Bonaventura (Komisaris PT Dahana); Osmar Tanjung (Komisaris PTPN IV); Andi Gani Nena Wea (Komisaris PT PP).
Ada juga Andrinof Chaniago (Komisaris Bank BRI); Sonny Keraf (Komisaris Bank BRI), Pataniari Siahaan (Komisaris Bank BNI), Roy Maningkas (Komisaris PT Krakatau Steel Tbk) dan Boni Hargens (Komisaris LKBN Antara).
Boni Hargens, pendiri Barisan Relawan Jokowi Presiden (BaraJP), menceritakan, sebelum ditunjuk menjadi Komisaris LKBN Antara, dia dipanggil ke Istana.
"Jokowi meminta saya untuk membantu negara dalam membangun opini untuk kepentingan bangsa dan negara," kata Boni kepada CNNIndonesia.com, Selasa (23/5).
Peranan Komisaris
Kata Boni, ketika itu, Jokowi berpesan agar Boni membangun kantor berita itu untuk kepentingan negara. "Kami benahi supaya bisa jadi kebanggaan bersama," kata Boni.
Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu Arief Poyuono mengatakan masuknya orang-orang dekat Jokowi di perusahaan negara bukan menjadi masalah.
Para komisaris itu, diistilahkan oleh Arief, sebagai ‘middle man’ yang mampu membantu komunikasi para pekerja. "Mereka justru mampu menjembatani komunikasi antara serikat pekerja dan direksi BUMN," kata Arief.
Salah satu keuntungan, kata dia, adalah mampu menekan kemungkinan direksi untuk menyelewengkan perusahaan. "Karena orang-orang itu dekat dengan Jokowi, banyak direksi yang takut. Mereka berpikir ulang untuk main-main," kata dia.