Kelompok yang mengklaim diri sebagai negara Islam itu mulai melebarkan sayap ke Indonesia setidaknya sejak 2014. Berbeda dari jaringan yang ada di nusantara sebelumnya, ISIS lebih mengutamakan "jihad" di wilayah kekuasaannya yang terbentang antara Irak dan Suriah.
Dihantam habis-habisan oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri, jaringan teror Indonesia kala itu sudah kesulitan untuk berbuat apa-apa. Karena itu, ideologi ISIS bisa jadi memberikan angin segar bagi sisa-sisa anggota Jamaah Islamiyah yang masih ada di tanah air.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seruan resmi ISIS kepada pengikutnya adalah untuk hijrah ke Suriah, wilayah ISIS. Jika dihalangi, maka diperintahkan membuka front jihad di mana mereka tinggal, sesuai kapasitas masing-masing dan tidak perlu menunggu komando khusus dari pimpinan ISIS di Suriah," kata Harits kepada CNNIndonesia.com, Kamis (25/5).
"Sangat kecil sekali potensi untuk kembali ke Indonesia," kata Harits.
[Gambas:Video CNN]
Sementara, di Indonesia para simpatisan ISIS yang tidak bisa hijrah ke Irak dan Suriah, akhirnya menjalankan perintah ISIS yang disebutkan Harits tadi. Mereka melakukan serangan-serangan sporadis dan individual terhadap anggota Kepolisian.
Tak jarang, serangan itu pun dilakukan sendiri. Tak terlibat jaringan sama sekali, mereka terpapar informasi dari internet dan media massa sehingga terinspirasi untuk melakukan serangan sendiri atau menjadi seorang teroris Lone Wolf--begitu sebutan buat mereka.
Belum lagi, di Timur Tengah, ISIS dilaporkan mulai kehilangan wilayah kekuasaannya sejak Oktober lalu, ketika pasukan Irak yang dibantu koalisi Amerika Serikat melancarkan operasi besar-besaran untuk merebut Kota Mosul. Mosul merupakan kota terpenting bagi ISIS di Irak. Di kota itu, pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, mendeklarasikan kekhalifahan dan memulai penyebaran ideologinya.
Meskipun kini ISIS telah kehilangan sebagian kontrol di Mosul, kelompok itu masih menguasai sejumlah kota seperti Qaim, Hawija, dan Tal Afar, serta Raqqa di Suriah. Sejumlah pengamat terorisme internasional kerap menilai hal ini juga berkontribusi membuat operasi ISIS semakin gencar di luar wilayahnya sendiri.
Markas Besar Polri menyatakan serangan ini patut diduga diotaki oleh ISIS, meski sejauh ini kelompok itu belum mengklaim. Harits pun menyatakan hal yang sama. "Kasus Kampung Melayu ada indikasi ini jejaring ISIS Indonesia yang terkait sosok Aman Abdurrahman," ujarnya tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Aksi teror di Kampung Melayu mengincar polisi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma) |
"Ini worldwide war (perang global). Pemanasannya kemarin di Manchester, sekarang di sini, untuk menyambut Bulan Ramadan," kata Jibriel saat berbincang dengan CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon.
Ciri-ciri yang dia maksud, pertama, mulai dari penentuan target yang mengincar polisi. Berbeda dengan para pendahulunya, ISIS kerap mengincar polisi yang dianggap "murtad."
Selain lebih mengutamakan musuh murtad ketimbang kafir, ISIS juga lebih khawatir dengan musuh dekat ketimbang musuh jauh, kata Jibriel. Karena itu, kelompok ini lebih memilih untuk menyerang institusi pemerintah seperti Kepolisian.
"Mereka tidak peduli bahwa hal tersebut membawa dampak buruk bagi Islam dan kaum Muslimin, membawa penderitaan bagi korban dan keluarga korban yang nota bene adalah kaum Muslimin," kata Jibriel.
Aksi teror di Kampung Melayu mengincar polisi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)