Vonis bersalah itu tentu untuk memberikan edukasi kepada seluruh masyarakat, agar nantinya menulis buku berdasarkan dengan data yang teruji dan riset mendalam.
"Ini yang lebih penting sebetulnya adalah aspek edukasinya dari pada punishment," kata Staf Ahli Deputi V Kantor Staf Presiden (KSP) Ifdhal Kasim kepada CNNIndonesia.com, Minggu (28/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bambang dinilai telah melanggar Pasal 28 ayat (2) jo Pasal 45 A ayat (2) UU 19/2016 atas perubahan UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektroni (ITE) jo Pasal 64 ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).
Menurut Ifdal, pihaknya tak mempermasalahkan berapa pun nantinya vonis yang dijatuhkan majelis hakim kepada warga Blora tersebut. Ifdal menyebut, putusan bersalah kepada Bambang sudah cukup untuk menguatkan bahwa yang dirinya tulis tidak lah benar.
Ifdal menbahkan, vonis terhadap Bambang bakal menjadi pelajaran yang berharga bagi terdakwa secara pribadi maupun masyarakat pada umumnya.
"Akan jadi pelajaran semua orang. Menulis itu harus memiliki data. Dan data itu harus dikroscek kebenarannya, bukan kliping-kliping koran yang disusun secara logis. Tapi harus diteliti kebenarannya," tandasnya.
Untuk diketahui pembacaan vonis untuk Bambang bakal dilakukan pada Senin (29/5) di Pengadilan Negeri Blora, Jawa Tengah.
Bambang diketahui menulis buku ini untuk membongkar jati diri Jokowi. Pada bukunya, Bambang menyebut Jokowi memalsukan data saat mencalonkan diri menjadi presiden pada pemilu tahun 2014.
Bambang juga menulis, Jokowi memiliki hubungan dengan Partai Komunis Indonesia dan mengantongi dukungan masyarakat dengan menyebar kebohongan melalui media massa.