Anggota koalisi dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Wahyu Widianto mengatakan, pengetahuan tentang isu HAM dan tugas Komnas HAM sangat penting bagi calon anggota komisioner Komnas HAM. Namun ia enggan menyebutkan nama calon yang dianggap tak memahami isu HAM.
"Dari catatan tahun lalu, masalah bukan hanya konten tetapi wewenang dari Komnas HAM," kata Wahyu, Sabtu (2/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wahyu menyebut, poin terkait korporasi dipandang penting karena akan mempengaruhi pemikiran orang yang bersangkutan dalam menyelesaikan masalah ketika ada konflik antara masyarakat dengan korporasi.
Kemudian dari segi integritas, ada 5 orang terkait masalah korupsi, 11 orang bermasalah dalam hal kejujuran, 8 orang bermasalah dalam kekerasan seksual, 14 orang bermasalah dalam isu keberagaman.
Dalam kesempatan yang sama, anggota lainnya yang juga Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Totok Yuliyanto menjelaskan, sejauh ini koalisi belum menemukan kekerasan lain selain seksual.
"Belum ditemukan kekerasan rumah tangga. Kami tidak buat kategorisasi tertentu. Semua indikator dimasukkan," katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan, penilaian dari koalisi ini dapat menjadi alternatif penilaian bagi Panitia Seleksi (Pansel) calon anggota Komnas HAM 2017-2022. Untuk itu, penilaian ini akan disampaikan pada Senin (3/7).
"Tujuannya untuk penguatan dan reformasi Komnas HAM demi peningkatan kualitas," ujar Totok.
Adapun, dalam melakukan penilaian ini tidak semua calon bersedia diwawancarai oleh anggota koalisi. Tercatat, ada lima calon yang menolak memberikan informasi dan tujuh calon tidak memberikan informasi secara keseluruhan.