Febri mengatakan, tudingan dari politikus Partai Golkar itu sebenarnya sudah dijelaskan beberapa waktu lalu, setelah ada audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
"Temuan BPK terkait dengan gedung misalnya, yang kemudian disebutkan sebagai mark up, itu jelas sangat keliru, karena itu sudah ditindaklanjuti," kata Febri saat dikonfirmasi, Rabu (12/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menghargai betul proses pengawasan dari BPK, dan DPR sepanjang kewenangan DPR," tuturnya.
Pakar hukum pidana Romli Atmasasmita menuding ICW mendapat suntikan dari 54 organisasi/lembaga donor asing. Dana itu digunakan untuk berbagai kerja ICW selama ini. Jumlah dana hibah itu mencapai Rp96 miliar.
"Pasti tidak pernah ada aliran dana tersebut. Saya kira kalau hal tersebut dibicarakan oleh pihak-pihak tertentu itu sangat keliru dan informasi yang diterima, ICW telah membantah," kata dia.
Febri menjelaskan bahwa KPK tidak pernah menerima aliran dana karena sudah memiliki anggaran keuangan negara, yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Justru KPK tidak pernah menerima aliran dana karena kami memiliki mekanisme sesuai dengan mekanisme keuangan negara yang ada. KPK dananya dari APBN seperti itu," ujarnya.