Saat itu, Benny memulai pendapatnya dengan ucapan simpati kepada Ketua DPR Setya Novanto yang menjadi tersangka kasus dugaan korupsi kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP).
"Bangga sekali untuk melihat dan menyaksikan pimpinan dewan lengkap duduk di depan kita semua. Tentu sebagai sahabat, sesama anggota dewan saya menyampaikan keprihatinan begitu mendalam atas musibah hukum yang menimpa Ketua DPR kita," kata Benny di Ruang Rapat Paripurna, Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (20/7).
"Kami doakan semoga Pak ketua kuat dan tegar menghadapi cobaan ini," lanjutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, belum selesai berbicara, tiba-tiba mikrofon Benny mendadak mati.
Merespons hal tersebut, pimpinan rapat paripurna Wakil Ketua DPR Fadli Zon meminta maaf kepada Benny atas insiden tersebut.
"Maaf itu tadi dimatikan. Jadi jangan dipencet lagi jadi mematikan itu Pak Benny. Mohon maaf kami sulit untuk mengembalikannya, jadi mohon mendaftar lagi," ujar Fadli.
Sebelumnya, Fadli di awal rapat telah menjelaskan sistem mikrofon yang digunakan saat interupsi anggota dewan, akan secara otomatis hidup dan mati selama waktu lima menit dengan sistem digital.
Rapat paripurna DPR RI membahas RUU Pemilu di Jakarta, Kamis (20/7). (CNN Indonesia/Abi Sarwanto) |
"Ini adalah momentum untuk mendesain pemilu penguatan sistem presidensial dan kepartaian, itu tidak akan berarti dan akan melemahkan bila kita keliru mendesain sistem tersebut. Oleh karena itu...," kata Syafi'i.
Belum selesai bicara, mikrofon Syafii mendadak mati. Tercatat Syafii baru bicara kurang lebih 2 menit. Anggota dewan yang lain pun mempertanyakan hal tersebut kepada Fadli.
"Kita sudah sepakati, hanya diberikan waktu selama lima menit. Mik akan mati secara elektronik," kata Fadli menjawab pertanyaan anggota.
Perkembangan terakhir, anggota yang hadir dalam rapat paripurna pengambilan keputusan RUU Pemilu sudah mencapai 534 anggota.
