Salah satu pemuda yang ikut aksi adalah Angga Putra Fidrian, relawan dari Kelas Negarawan Muda. Ia tergerak untuk terlibat aksi karena melihat sosok Maria Katarina Sumarsih, ibu korban pelanggaran HAM, yang konsisten hadir setiap Kamis di depan Istana.
"500 kali berdiri di depan Istana itu enggak gampang, bentuk konsistensi yang luar biasa. Saya sebisa mungkin datang ke sini untuk kasih dukungan," kata Angga di tengah aksi, Kamis, (27/7).
Ia berharap, para pemuda lainnya ikut bergabung ke Kamisan dan terlibat dalam memperjuangkan keadilan bagi para korban pelanggaran HAM.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada dikatakan oleh Ni Kadek Diana Pramesti, mahasiswa Universitas Padjadjaran. Menurutnya, masih sedikit anak muda yang ikut bergerak memberi dukungan bagi para korban. Padahal, kata Kadek, berbagai cara bisa dilakukan, seperti lewat seni.
Lihat juga:Pesan Sumarsih Andai Bertemu Kaesang |
Ia meyakini jika masa lalu belum dituntaskan, maka tidak akan ada masa depan. Kasus pelanggaran HAM berat sejak 1965, menurutnya, harus segera diselesaikan sesuai dengan janji Presiden Jokowi dalam Nawacita.
Hari ini (27/7) aksi kamisan untuk menuntut penuntasan kasus hak asasi masa lalu genap yang ke-500 kali. Aksi kali ini mengambil tema “500 Kamis Cuma Janji Manis”.