"Potensi kebakaran hutan dan lahan akan terus meningkat. Puncak kemarau diprediksi pada September mendatang sehingga potensi kebakaran hutan dan lahan juga makin meningkat," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Minggu (6/8) dikutip Antara.
Hingga saat ini lima provinsi telah menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan, yaitu Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Kalimantan Barat terdapat lima kabupaten yang telah menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan, yaitu Kabupaten Kubu Raya, Ketapang, Sekadau, Melawi dan Bengkayang.
Sutopo memaparkan lokasi hotspot atau titik panas yang mengindikasikan kebakaran hutan dan lahan berada pada lahan perkebunan swasta, lahan milik masyarakat dan di taman nasional.
Dia menjabarkan secara nasional terpantau 282 sebaran titik panas dengan terbanyak di Kalimantan Barat sejumlah 150 titik panas. Lainnya tersebar di Sumatera Selatan (23), Riau (16), serta 18 titik api di Sulawesi Selatan.
Sementara wilayah lain yang juga mendapatkan perhatian dari BNPB adalah Kabupaten Ogan Ilir di Sumatera Selatan yang mulai terbakar pada Sabtu (5/8) pukul 14.00 WIB.
Guna membendung laju penyebaran api, BPBD Jambi dan Sumatera Selatan mengajukan tambahan helikopter water bombing. Pasalnya, lokasi kebakaran hutan dan lahan sebagian besar berada di daerah-daerah yang terbatas aksesibilitas.
Adapun kendala lainnya adalah luasnya daerah yang harus dijaga, terbatasnya sarana, prasarana dan anggaran bagi petugas di lapangan, cuaca kering, serta sumber air yang terbatas.