The Yudhoyono Institute, 'Branding' Putra Mahkota Cikeas AHY

Patricia Diah Ayu Saraswati, CNN Indonesia | Jumat, 11/08/2017 08:51 WIB
The Yudhoyono Institute, 'Branding' Putra Mahkota Cikeas AHY Agus Harimurti Yudhoyono bisa menonjolkan sisi intelektualitasnya dalam The Yudhoyono Institute. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) telah meresmikan The Yudhoyono Institute (TYI) pada Kamis (10/8) malam. AHY mengklaim lembaga tersebut bersifat independen, nonpolitik. Menurutnya, TYI akan berfokus pada isu-isu strategis baik lingkup nasional, regional, maupun global.

Selain itu, kata AHY, TYI didirikan untuk menyiapkan pemimpin masa depan dan mewujudkan Indonesia Emas pada 2045 mendatang, saat Indonesia genap 100 tahun merdeka.

Lewat pendirian TYI, lanjut AHY diharapkan dapat melahirkan generasi masa depan, calon pemimpin bangsa yang berjiwa patriotik, berakhlak baik, dan unggul yang bisa membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju.
Pengamat politik dari Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menyebut pendirian TYI tidak bisa dilepaskan dari kampanye yang dilakukan untuk AHY.


Menurutnya pendirian TYI dapat dilihat sebagai proyeksi dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atau keluarga Cikeas dalam mempersiapkan AHY sebagai calon pemimpinan masa depan.

"Itu (pendirian TYI) bagian dari upaya mem-branding putra mahkota Cikeas, AHY. Kan, sudah ada kesepakatan yang akan didorong jadi the next leader kan AHY, bukan Ibas," kata Karyono saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (10/8).

Branding AHY itu pada akhirnya tak lepas dari panasnya atmosfer politik menuju Pemilu 2019. Karyono menilai pendirian TYI sebagai branding dimaksudkan untuk mencapai target politik dari keluarga Cikeas ke depan, yakni Pemilu Presiden 2019.
"Sekaligus untuk menunjukkan eksistensi keluarga Cikeas," ujarnya.

Sisi Intelektualitas AHY

Dihubungi terpisah, pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun mengatakan kehadiran TYI ini bertujuan untuk menunjukkan kualitas intelektual dari AHY.

Selain sebagai mantan tentara, lanjut Ubedilah, AHY ingin menunjukkan dirinya juga seorang politisi muda yang memiliki latar belakang intelektual mumpuni.

"Ada kesan mau menunjukkan kepada publik bahwa AHY adalah bukan hanya sekadar mantan tentara, tapi juga dia seorang muda yang intelektual, itu yang mau dikesankan," ucap Ubedilah.
Citra tentara yang dinilai kerap mengandalkan kekuatan fisik, menurut Ubedillah ingin diubah oleh AHY dengan mendirikan TYI.

"Mantan tentara yang punya ide, pemikiran intelektual dalam merancang masa depan Indonesia. Kira-kira begitu yang mau ditunjukkan, bukan tentara yang bermodal otot belaka," katanya.

Sisi intelektualitas Agus bisa dilihat dari apa yang bisa dihasilkan TYI ke depan. Intelektualitas Agus akan diakui jika TYI mampu memproduksi berbagai gagasan untuk kemajuan Indonesia di masa depan.

Sebaliknya, Ubedilah berpendapat TYI bisa menjadi bencana politik bagi AHY jika tidak bisa mengimplementasikan tujuannya.

"Saya kira itu bencana politik buat AHY sendiri kalau hanya sekadar pencitraan, artinya kalau itu hanya sekadar seremoni, masyarakat menilai ini hanya pencitraan belaka," ujarnya.
Senada dengan Karyono, Ubedilah juga mengatakan pendirian TYI juga bisa digunakan SBY untuk menunjukkan dirinya masih punya kekuatan politik di Indonesia.

"Bisa saja SBY mau menunjukkan kepada publik bahwa dia masih punya kekuatan, power di dalam mendesain masa depan Indonesia," ucap Ubedilah.

Namun, terlepas dari unjuk diri SBY itu, Ubedilah menyebut pendirian TYI ini juga bisa menjadi momentum menunjukkan kesiapan AHY untuk masuk ke dalam arena politik di Indonesia.