Blak-Blakan HTI: Dari Khilafah sampai Ambil Alih Kekuasaan

Tim CNNIndonesia.com, CNN Indonesia | Kamis, 17/08/2017 16:04 WIB
Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia Ismail Yusanto. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak ada niat mendirikan Hizbut Tahrir Indonesia ketika Ismail Yusanto dan kawan-kawan bergiat dalam halaqah atau lingkaran kecil pengkajian Islam. Saat itu, tahun 1980-an, halaqah hanyalah salah satu sarana untuk saling berdiskusi, belajar, sekaligus berdakwah bagi para aktivis Islam. 

Ismail juga tak bisa mengingat kapan resminya Hizbut Tahrir Indonesia terbentuk. 

Juru bicara HTI itu menyebut berdirinya HTI sebagai sesuatu yang bersifat natural, kristalisasi dari pergumulan di halaqah-halaqah kampus dan situasi pada zaman itu. Revolusi Iran, Perang Dingin, dan otoritarianisme Orde Baru, kata dia, menjadi berkah terselubung yang pada akhirnya menumbuhkan kesadaran akan visi masyarakat Islam di lingkaran aktivis Islam. 


Hizbut Tahrir Indonesia ibarat anak yang kelahirannya tak direncanakan sama sekali. Namun, seiring dengan perubahan rezim, 'anak yang tak diinginkan' itu ternyata mampu menjelma menjadi sebuah organisasi Islam yang saat ini diprediksi memiliki jutaan kader dan simpatisan.

Ismail Yusanto menceritakan semuanya saat CNNIndonesia.com berkunjung ke kantor HTI. Mewakili HTI, dia juga memaparkan pandangannya mengenai gagasan khilafah atau Negara Islam (daulah islamiyah), Perppu Ormas, hingga soal pidato salah satu pengurus HTI yang menyerukan militer mengambil alih kekuasaan. Berikut petikan wawancaranya:


Bagaimana HTI berdiri di Indonesia? Semangat atau gerakan apa yang dikobarkan saat itu? 


Sebenarnya kalau bicara tentang Hizbut Tahrir kita berbicara tentang dakwah. Ketika berbicara dakwah, maka sebenarnya tidak ada sesuatu yang spesial karena dakwah itu bagian dari ajaran Islam yang sangat esensial, sangat pokok, bahkan para ulama itu menyebut agama Islam adalah agama dakwah…

Itu terjadi sekitar tahun 1980an. Tahun 80, 83, 84, 85. Kalau boleh saya sebut kami mengalami di kampus khususnya itu dakwah pada fase ketiga. Fase pertama kalau dari kampus itu ada yang digerakkan oleh organisasi ekstra kampus seperti HMI, PMII, GMNI dan sebagainya. Kemudian fase kedua digerakkan oleh dakwah seperti Pengkajian Risalah Tauhid, Forum Studi Islam. Kemudian mulai lah masuk khazanah dakwah dari berbagai belahan dunia seperti Jamaah Tabligh, Salafi, Ikhwanul Muslimin, termasuk Hizbut Tahrir. 

Saya sebut itu sebagai dakwah gelombang ketiga. Itu yang kemudian memberi arah baru terhadap dakwah di kampus khususnya. Yang sekarang semakin menjadi Jamaah Tabligh ada, Salafi ada, kemudian Ikhwanul Muslimin, lalu Tarbiyah yang dalam partai mewujud PKS, lalu Hizbut Tahrir. 

Itu semacam kesadaran baru anak-anak muda tentang bagaimana mereka memandang umat, melihat faktanya, kemudian idealitanya seperti apa. Ingat pada waktu itu tahun-tahun 80-an ada Revolusi Iran, Perang Vietnam belum selesai, kita juga mengalami proses mobilitas vertikal dimana Orde Baru menginjak tahun ke-10. 

Nah, itu yang kemudian kesadaran tumbuh di kalangan anak-anak muda, lalu bacaan juga mulai berkembang. Belum ada Internet, tapi buku-buku yang datang dari luar mulai diterjemahkan, mulai ada kajian kajian. Mereka yang belajar di Timur Tengah juga kembali. Itu yang memberikan pemahaman baru terhadap dakwah. 

Jadi sebenarnya ini ada sebuah proses yang terus menerus. Tidak ujuk-ujuk. Tidak ada yang sama sekali baru. Proses sosial begitu kan, tidak pernah betul-betul tunggal begitu. Pasti ada faktor-faktor komplementer. 

Sebagai gerakan transnasional bagaimana korelasi HTI dengan Hizbut Tahrir pusat? Terutama terkait dukungan dana atau sokongan politik? 

Yang pertama harus dipahami bahwa istilah transnasional baru kita kenal. Ini ingin saya sampaikan supaya tidak ada satu penilaian buruk. Sebab, sekarang ini semuanya coba ada stigmatisasi, monsterisasi. Istilah radikal itu kan menjadi kelihatan mengerikan. 

Transnasional juga kelihatan mengerikan. Padahal sesungguhnya, semua yang ada di negeri ini transnasional. Agama kita ini semua transnasional, baik Islam, Kristen, Hindu, Buddha datang dari luar kan. Agama asli Indonesia apa? Begitu juga berbicara mengenai ideologi; sosialisme, kapitalisme, demokrasi dari luar. Bukan hanya itu, makanan juga. Jadi, masuknya dakwah ke negeri ini, istilahnya masuk. Itu pasti dari luar. 

Kalau secara organisasi nggak ada-keterkaitan dengan Hizbut Tahrir pusat. Dalam arti begini, kalau tadi ditanyakan bahwa dana, kita self financing, iuran. 

Kalau gagasan, buku memang dari Hizbut Tahrir. Kitab-kitabnya itu. Malah kita ini Indonesia tidak mengeluarkan kitab sendiri. Dan itu lagi-lagi sebenarnya suatu hal yang dipandang biasa. Memang, ada yang dibuat oleh orang Indonesia tetapi lebih sedikit dibanding khazanah Islam yang demikian luas. 

Anda salah satu aktivis cemerlang dalam lingkungan dakwah lembaga kampus. Bagaimana Anda melihat geliat pergerakan mahasiswa saat itu? Apakah ada semacam perang ideologi di dalam kampus? 

Oh iya. Kampus itu kan medan pertarungan. Kalau di masa saya dulu itu ada HMI dan GMNI, antara mahasiswa Islam dengan mahasiwa nasionalis, ditambah lagi dengan mahasiswa sosialis. Itu biasa sekali di kampus. 

Kemudian terjadi varian yang lebih detail dalam mahasiswa nasionalis, sosialis nanti macam-macam lagi. Kemudian di Islam juga mulai macam-macam. Di situ Hizbut Tahrir memberikan warna dalam pergulatan pemikiran atau pertarungan di antara mahasiswa Islam. Kemudian akhirnya juga memberikan warna dalam pertarungan pemikiran di kampus secara umum. 

Tetapi saya melihat begini. Kenapa mahasiswa tertarik kepada gerakan Sosialisme, misalnya, itu kan sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa Islam. Saya melihat karena mereka merasa konsep sosialis bisa menjawab kebutuhan mengenai pembelaan terhadap orang miskin, terlebih bisa men-challenge dominasi kapitalisme. 

Nah, pembinaan yang diberikan Hizbut Tahrir memang di antaranya adalah pembinaan yang bertumpu pada pemahaman mengenai pertarungan ideologi. Jadi dalam kitab Sistem Islam misalnya ada perbandingan ideologi Islam, Kapitalisme dan Sosialisme. Yang kemudian membuat mereka setelah mengkaji itu menjadi mengerti. Oh, ini kapitalis, sosialis. 

Kalau yang Islam tidak bisa mengkaji perbandingan ideologi ini, dia gak bisa ikut bertarung dalam pemikiran karena dia enggak mengerti. Apa alternatif Islamnya itu? Dia gak mengerti. Ini yang saya kira, kalau boleh kami sebut sebagai semacam sesuatu yang unik dari HTI. 

Tentang Khilafah dan NKRI

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2