Mahfud MD: Baasyir dan Rizieq Shihab Jadi Idola Anak Muda

Patricia Saraswati, CNN Indonesia | Senin, 21/08/2017 19:01 WIB
Mahfud MD: Baasyir dan Rizieq Shihab Jadi Idola Anak Muda Mahfud MD menyebut idola baru anak muda saat ini Abu Bakar Baasyir dan Rizieq Shihab. (Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anggota Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Mahfud MD mengatakan, saat ini banyak anak muda yang mengidolakan kaum berpaham radikal.

Mahfud menyebut fenomena tersebut menjadi kekhawatiran yang harus diperhatikan pemerintah.

"Ada semacam kekhawatiran. Akhir-akhir ini beberapa penelitian misalnya ditemukan anak-anak muda itu idolanya kaum radikalis," kata Mahfud MD dalam Forum Merdeka Barat 9 di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Senin (21/8).
Mantan Menteri Pertahanan era almarhum Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mengatakan, ada sebuah penelitian di sekolah yang mengajukan pertanyaan terkait sosok idola anak muda, seperti Sukarno, KH Abdurrahman Wahid, atau bahkan Abu Bakar Baasyir.


"Yang di atas justru Abu Bakar Baasyir dan Habib Rizieq (FPI), (ini) pengaruh radikalisme," kata Mahfud.

Dia menambahkan, pemerintah melalui UKP-PIP berupaya melakukan penguatan pendidikan Pancasila untuk membendung fenomena tersebut agar tidak terus berkembang. Salah satunya dengan cara mengembalikan pendidikan Pancasila di sekolah-sekolah.
"Pendidikan Pancasila juga sudah tidak ada di sekolah. Lalu muncul kekhawatiran itu, maka harus dikuatkan kembali implementasi pendidikan Pancasila," ujarnya.

Selain itu, lanjutnya cara lain untuk mencegah fenomena itu dengan cara memperkuat persatuan dan kesatuan. Mahfud menyebut, Indonesia sebenarnya tidak menolak perubahan, tetapi perubahan itu harus dilakukan secara bertahap.

"Kami tidak menolak perubahan, tidak secara radikal tetapi bertahap," ujar mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu.
Sebelumnya, penelitian yang dilakukan Wahid Institute menyebutkan, sebanyak 11 juta orang bersedia melakukan tindakan radikal. Data tersebut berdasarkan hasil survei tentang radikalisme dan intoleransi yang melibatkan 1.520 resonden dengan metode multi stage random sampling.

Berdasarkan survei tersebut, sebanyak 0,4 persen penduduk Indonesia pernah bertindak radikal. Sedangkan 7,7 persen mau bertindak radikal kalau memungkinkan.

"Kalau dari populasi berarti 600 ribu pernah bertindak radikal dan 11 juta orang mau bertindak radikal," kata Direktur Wahid Institute Yenny Wahid, pekan lalu di Balai Kartini, Jakarta.