"Soal jadi atau tidak nanti dalam proses Pemilihan Legislatif, ya tergantung dari politik masing-masing parpol. Ternyata tidak gampang menyiapkan 30 persen calon jadi. Kalau sekadar calon bisa," kata Tjahjo di bilangan Jakarta Pusat, Sabtu (26/8).
Menurut dia, selain kurangnya kemauan dari perempuan jadi anggota dewan, terpenuhinya kuota legislator perempuan juga tergantung dukungan dari partai politik. Kata dia, akan jadi percuma bila nantinya partai yang menaungi tidak memberikan dukungan, mengingat soal kemampuan dapat dibandingkan dengan anggota laki-laki.
Lihat juga:Menakar Peta Kekuatan di Pilkada Jabar 2018 |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, Ketua Bidang Media dan Penggalangan Opini Partai Golkar Nurul Arifin mengungkapkan ada beberapa kekurangan untuk mencapai 30 persen legislator perempuan. Ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki, terutama dalam mengambil sikap seperti halnya strategi politik.
Ia mengatakan, saat ini rasa percaya diri untuk memainkan strategi dari politikus perempuan mungkin belum terbangun sepenuhnya. Padahal seharusnya, semua harus dibangun dari mulai kapabilitas, integritas sampai dengan 'isi tas'.
Nuru meyakini, sesungguhnya dunia berpolitik kaum adam lebih kejam ketimbang perempuan. Nurul tidak percaya jika sesama perempuan nantinya bakal saling menjatuhkan.
"Saya tidak percaya bahwa perempuan bisa sama-sama menjatuhkan perempuan, karena sesungguhnya dunia laki-laki lebih kejam. Semua terhantung kepada kecerdasan berpolitik individu," kata Nurul.