Rina (48) misalnya, setiap bulannya dia harus memeras otak untuk mengatur pendapatannya yang tidak seberapa hingga dipecah untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya, kebutuhan makan sehari-hari, biaya air dan listrik, serta pembayaran sewa yang harus dia tanggung setiap bulan.
"Berat sekali, makanya kita menunggak," kata Rina saat ditemui CNNIndonesia.com di kawasan Rumah Susun Jatinegara Barat, Jakarta Timur, Selasa (5/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya gitu, pakai stiker merah. Ditempel di pintu. Dibilang si A ini nunggak berapa bulan," tutur Rina yang tinggal di unit 1305 Tower B.
Sementara itu, kepala pengelola rumah susun Jatinegara Barat, Vita Nurviatin membenarkan terkait tunggakan yang sering dilakukan penghuni rumah susun yang dikelolanya. Tunggakan kata Vita, secara keseluruhan bahkan telah mencapai angka Rp 1 miliar lebih.
"Ya, banyak yang menunggak, per Agustus saja total ada 482 unit yang menunggak," kata dia melalui sambungan telepon.
Namun, Vita menyebut pihaknya tidak serta merta langsung mengusir warga yang telah menunggak lebih dari tiga bulan. Dia menyebut ada beberapa prosedur yang dilakukan pihaknya untuk memberikan keringanan kepada warga.
"Kita kasih waktu buat cicil sampai Desember, nanti selepas Desember kalau masih belum lunas, kita tunggu saja kebijakan selanjutnya," kata Vita.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat menyindir para penghuni rumah susun sewa (rusunawa) yang menunggak biaya dengan alasan tidak bisa menyisakan uang karena harus menanggung biaya transportasi sehari-hari.
Kata Djarot, hidup di ibu kota memang keras dan penuh perjuangan, sehingga banyak biaya yang harus diperhitungkan.
"Kalau mereka sampaikan bahwa jauh tempat bekerja, kita juga banyak yang jauh tempat bekerjanya. Sekali lagi hidup di Jakarta memang butuh perjuangan ya," kata Djarot di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (5/9).