Menurut Djarot, RS Mitra Keluarga harusnya menomorsatukan pelayanan kesehatan, tanpa perlu memikirkan persoalan uang lebih dulu. Terutama terhadap pasien yang dalam keadaan kritis atau gawat darurat.
"Rumah sakit atau dokter itu skala prioritasnya adalah memberikan penanganan terlebih dahulu secara maksimal pada siapa pun yang masuk di situ, tanpa kemudian menghitung-hitung berapa biayanya, tangani dulu," kata Djarot di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (11/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan Wali Kota Blitar itu menegaskan, misi utama rumah sakit adalah menolong dan menyelematkan jiwa orang lain, bukan berorientasi profit semata.
Lihat juga:Bayi Debora dan Kisah Pilu Layanan Kesehatan |
"Ya, kadang-kadang faktor keuntungan lebih didahulukan. Misalnya, luka sedikit saja, tulang yang tidak perlu dioperasi jadi harus dioperasi. Kan kalau nggak perlu operasi, nggak usah operasi. Ya, nggak?" ucap Djarot.
"Kalau perlu pengobatan, tidak harus semuanya dengan hitung-hitungan, diberikan penanganan berlebih sehingga biayanya mahal."
Terakhir, Djarot mendorong agar seluruh rumah sakit swasta bergabung dengan BPJS Kesehatan, agar pada 2019 nanti semua penanganan medis warga negara terjamin.
Lihat juga:YLKI: Kasus Bayi Debora Ironi Rumah Sakit |
Debora tak bisa dirawat di ICU hanya karena orang tuanya tak mampu membayar uang muka biaya ICU sebesar Rp19,8 juta. Selain itu pihak RS Mitra Keluarga juga tak bisa melakukan penanganan di ICU karena bukan rekanan BPJS.
Dalam laman resminya, RS Mitra Keluarga Kalideres memberi klarifikasinya, bahwa orang tua Deborah keberatan dengan biaya uang muka ICU sebesar Rp19,8 juta. Rumah sakit juga sudah berupaya membantu mencari rumah sakit yang punya fasilitas untuk peserta BPJS.
Di saat dokter RS Mitra Keluarga sedang berkoordinasi dengan dokter di rumah sakit rujukan yang rekanan BPJS, perawat mengabarkan kalau kondisi Debora tiba-tiba memburuk. Setelah melakukan resusitasi jantung paru selama 20 menit, nyawa bayi Debora tidak dapat ditolong.