Pengamat terorisme, Al Chaidar mengatakan, penggunaan anak-anak sebagai 'martir' oleh ISIS sudah dilakukan sejak lama. ISIS ingin menanamkan pemikiran jihad kepada anak-anak untuk melawan Barat.
"Ya sudah lama. Mereka ingin melawan Barat dengan menggunakan anak-anak, juga untuk melatih mereka berjihad," ujar Al Chaidar kepada CNNIndonesia.com, Rabu (13/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu kepercayaan eskatologis mereka. Ini biasa terdapat pada gerakan-gerakan millenarian," ujar dia.
Bicara Hath Saiful Rasul maka tak lepas dari sang ayah, Syaiful Anam yang merupakan narapidana kasus terorisme.
Pria berusia 36 tahun itu memiliki tiga nama samaran, yakni Brekele, Mujadid, dan Idris. Ia ditangkap personel tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri atas serangan teror bom rakitan di Pasar Tentena, Poso, Sulawesi Tengah pada 28 Mei 2005.
Syaiful sendiri diketahui telah memberangkat keluarganya ke Suriah untuk mendukung perjuangan ISIS sejak lama, yakni sekitar tahun 2015.
Al Chaidar pun tak menampik, peran orang tua sangat berperan dalam kasus Hath ini. Syaiful Anam sebagai orang tua berperan sangat penting dalam mewarisi pemikiran radikal kepada keluarga, terutama anak-anaknya. "Ya (orang tua berperan mewarisi pemikrian jihad dan radikal kepada anak-anaknya)," kata Al Chaidar.