Sebagian mereka berbaris mengambil air wudu. Pesantren Ibnu Mas’ud terletak di Jalan Jami, Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Usai berwudu, mereka masuk ke masjid membentuk saf secara rapi.
Sesaat kemudian, Agus Purwoko, Kepala Yayasan Al Urwatul Usro ikut mengambil air wudu dan bergabung bersama para santri. Pria berusia 57 tahun itu adalah kepala yayasan yang menaungi Pondok Pesantren Tahfizh Al Quran Ibnu Mas'ud.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pesantren Ibnu Mas’ud menjadi populer karena disebut-sebut sebagai tempat belajar bocah yang menjadi ‘petarung ISIS’ Hatf Saiful Rasul. Hatf memutuskan bergabung dengan organisasi teroris itu diketahui usai mengunjungi ayahnya, Syaiful Anam di penjara dengan tingkat pengamanan tinggi. Namun, Hatf sendiri diketahui tewas pada awal September lalu karena terkena serangan udara.
![]() |
Tujuan Pesantren
Menurutnya, pesantren ini bertujuan untuk menyelamatkan anak-anak dari keluarga yang bermasalah.
Agus menuturkan, mayoritas masalah keluarga yang melatarbelakangi santri di Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud adalah perkelahian antara orang tua yang terjerat dalam tindak pidana.
Agus menyampaikan, anak-anak dari berbagai latar belakang keluarga dapat menimba ilmu di Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud. Dia mengaku tidak mempedulikan latar belakang orangtua para santri, meskipun narapidana kasus terorisme.
Lihat juga:Dua Terduga Teroris Ditangkap di Dekat Paris |
"Anak ini tidak berdosa, yang berdosa orang tuanya. Saya urus mereka tanpa lihat latar belakang orang tuanya," ucapnya.
"Kami pernah dititipkan anak teroris yang kami tidak tahu, karena pas daftar kami tidak tahu bapaknya sedang masalah dengan negara. Wah ya sudah anaknya sudah di sini, anaknya sudah aman,” ujar dia.
Pesantren Ibnu Masud di Bogor tempat bocah pejuang ISIS pernah belajar. (CNN Indonesia/Martahan Lumban Gaol) |
Tanpa Promosi
Dia pun mengaku tidak menyangka Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud akan berkembang menjadi seperti saat ini. Menurutnya, jumlah santri saat ini bertambah pesat, mulai dari sekitar enam orang pada awal berdiri menjadi 260 orang di saat ini.
Agus mengatakan, perkembangan Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud terjadi tanpa promosi yang dilakukan pihaknya.
Menurut dia, santri di Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Kalimantan, Sumatera, hingga sejumlah provinsi di Pulau Jawa.
Menurutnya, mayoritas santri berasal dari Tangerang (Banten), Jakarta, dan Bekas (Jawa Barat).
Begitu juga dengan luas wilayah pondok pesantren yang telah bertambah hingga 1.000 meter persegi. Agus menyampaikan, pihaknya terus menerima bantuan dari orangtua santri, salah satunya adalah masjid.
“Ini masjid dikasih. Ini awalnya 1.900 meter persegi. Ini asrama baru juga, ada dari infak dari masyarakat. Sekarang sudah sekitar 3.000 meter persegi," tuturnya.
Namun, menurutnya, pihaknya kerap mendapatkan tenaga pengajar yang sesuai kebutuhan. Dia mengatakan, banyak tenaga pengajar yang telah dipecat lantaran diketahui melakukan tindakan tindakan kasar kepada santri.
(CNN Indonesia/Martahan Sohuturon) |
Kegiatan Santri
Agus juga menjelaskan pelbagai kegiatan dilakukan santri sejak bangun tidur pada pukul 3.00 WIB. Dia mencontohkan kegiatan yang berlangsung setiap Senin, santri diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa dan memulai hari dengan sahur.
Setelah itu, menurutnya, para pengasuh akan mengajak santri untuk menunaikan Salat Tahajud dan Salat Subuh. Santri kemudian diwajibkan untuk membaca Al Quran hingga pukul 7.00 WIB.
"Seperti pelajaran di sekolah," katanya.
Dia mengatakan, pelajaran tersebut diberikan kepada santri hingga pukul 10.30 WIB.
Setelah itu, santri kembali diberikan waktu beristirahat hingga waktu Salat Zuhur tiba. Kemudian, santri diberikan waktu untuk tidur hingga pukul 15.00 WIB dan diminta kembali berkumpul di masjid untuk menunaikan Salat Asar.
Lihat juga:Kisah Aman Abdurrahman Jatuh Hati pada ISIS |
Selesai Salat Maghrib santri diwajibkan untuk kembali membaca Al Quran sambil menunggu waktu makan malam tiba. Santri kembali diberikan waktu bebas hingga pukul 22.00 WIB.

Pesantren Ibnu Masud di Bogor tempat bocah pejuang ISIS pernah belajar. (CNN Indonesia/Martahan Lumban Gaol)
(CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)